Merintis Jurnalis Muda di MAN 2 Yogya

20 siswa terpilih mengikuti Pelatihan Jurnalistik dengan narasumber Bramma Aji Putra Humas Kanwil Kemenag DIY dan Chaidir wartawan dari Kedaulatan Rakyat. Kegiatan terbagi menjadi 2 sesi yaitu teknik menulis dan meliput berita. Acara dibuka oleh Drs. H. Mardi Santosa ditandai dengan penyerahan majalah Ausath secara simbolis dari tim Jurnalistik kepada kepala madrasah berlangsung di aula lantai tiga MAN 2 Yogyakarta pada Kamis (15/11).

Kegiatan ini merupakan program kehumasan. Bertujuan untuk memberikan bekal kepada siswa terpilih yang tergabung dalam tim jurnalistik.Sesi pertama difokuskan pada materi Dasar-Dasar Jurnalistik dengan moderator Diah Wijiastuti,S.S. Sementara sesi kedua lebih difokuskan pada teknik meliput berita dengan moderator Leni,S.Si.

“ Menulislah, karena dengan menulis kita dikenang. Menulislah karena dengan menulis bisa membawa kita kemanapun. Seorang Bram bisa keliling Nusantara dan luar negeri juga karena menulis. Maka, menulislah,” papar pemilik motto hidup Nyalakan lilin untuk menerangi daripada mengutuk kegelapan yang disambut tepuk tangan peserta pelatihan.

“ Bagaimana cara mengatasi kebosanan dan kehabisan ide pada saat menulis?” tanya Alya Adhinti pada akhir sesi pertama. “ Hanya ada satu kunci, jika ingin menjadi penulis maka harus banyak membaca dan banyak menulis. Ibarat gelas yang berisi air jika dituangkan maka akan keluar air, namun jika gelas itu kosong maka tidak akan keluar apapun dari gelas tersebut,” jawab Bram. Sebagai bentuk apresiasi Bram memberikan buku berjudul Menembus Koran kepada Alya Adhinti dan 2 tulisan terbaik hasil praktik menulis.

Sementara pada sesi kedua Chaidir lebih menitikberatkan pada praktik meliput berita. Bertindak sebagai Kepala Madrasah yang mengadakan konfrensi pers akan membuka 3 kelas bahasa asing pada jurusan IBB seluruh peserta pelatihan diminta membuat berita terkait kegiatan tersebut. Sesi kedua dilaksanakan di Laboratorium Bahasa memudahkan peserta langung mengetik liputan dan langsung dikoreksi Chaidir.

Disela memeriksa hasil tulisan Chaidir mengatakan “ Ini sudah bisa menjadi modal bagi adik-adik, tinggal memperbanyak bacaan untuk menjadi referensi. Sebagai contoh, dari satu sumber saja bisa terkumpul tulisan yang bermacam-macam dari sudut pandang. Itulah liputan, bisa ditulis dari berbagai segi tergantung kepentingan,” jelas Chaidir. Hal yang lebih penting adalah jangan sampai mencampur adukkan antara liputan dengan opini, karena hal itu menyalahi aturan tambahnya sebelum mengakhiri acara.

Pada pukul 14.30 kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan penyampaian majalah Ausath kepada narasumber sebagai kenang-kenangan.( Diw)

diah wijiastuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts