MAN 2 Yogyakarta Kian Tampil Lebih Eksotis

Berdiri kokoh di jalan KHA.Dahlan 130 Yogyakarta, bangunan bersejarah yang dibangun pada masa penjajahan Belanda ini masih terlihat megah hingga saat ini. Menggunakan model atap segi enam dan limasan pada bangunan utama adalah ciri khas indis ditinjau dari segi arsitektural. Ciri lainnya tampak pada gable/ gunung-gunung yang menyatu dan menggunakan material yang sama dengan dinding, hiasan atap berbentuk gada dan beberapa ornamen bercorak Cina. Lantai dengan tegel bermotif, pintu dan jendela berbentuk empat persegi panjang dengan panil krepyak, panil kayu dan kombinasi kaca. Sementara patung singa di samping kanan bangunan dan hiasan puncak atap berupa burung semakin menambah nuansa eksotis bangunan.

Gedung cagar budaya yang merupakan bangunan utama  MAN 2 Yogyakarta saat ini menjadi kantor pelayanan administrasi, awalnya adalah milik Ngok An seorang warga Cina. Kepemilikannya diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia setelah zaman kemerdekaan. Tahun 1946-1949 bangunan ini digunakan sebagai kantor Departemen Agama RI yang pertama.

Usai Direnovasi MAN 2 Yogyakarta Kini Tampil Lebih Eksotis

Tahun 1957-1974 digunakan untuk Sekolah Pendidikan Guru Agama Atas II (PGAA II). Tahun 1975 PGAA II berubah menjadi PGAN 6 Tahun Puteri Yogyakarta dengan menerima siswa khusus dari DIY dan sekitarnya. Setelah terbit SK Menteri Agama Nomer 17 Tahun 1978, PGAN 6 Tahun Puteri Yogyakarta berubah status menjadi MAN Yogyakarta II. Tahun 2015 terbit SK perubahan nomeklantur MAN Yogyakarta II menjadi MAN 2 Yogyakarta.

Panjangnya perjalanan waktu yang sudah dilalui hingga sekarang, maka tidak mengherankan jika sudah banyak beberapa bagian bangunan yang sudah lapuk. Pernah mengalami pengecatan ulang sebelum tahun 2018 dengan menggunakan cat berwarna hijau sesuai surat instruksi Kementerian Agama, akhirnya pengajuan permohonan kepada Dinas Kebudayaan DIY dengan kegiatan Pengembangan Cagar Budaya Dan Warisan Budaya mendapatkan persetujuan untuk direnovasi di tahun 2019. Sebagai salah satu bangunan cagar budaya tidak mudah melakukan renovasi meskipun ada beberapa bagian yang sudah sangat tidak layak. Salah satunya adalah bagian dari atap teras dengan kain penyangga yang kondisinya sangat membahayakan.

“Menggunakan 150 hari kalender pengerjaan, maka rencananya pada 24 Oktober akan dilakukan penyerahan pertama dari pihak kontraktor sehingga bangunan dapat digunakan kembali untuk beraktifitas. Ini sudah memasuki tahap finishing karena renovasi sudah dimulai sejak Mei lalu,” jelas Kepala Madrasah Mardi Santosa.

Mardi menambahkan bahwa untuk merenovasi bangunan cagar budaya ini memerlukan biaya hampir 1,2 milyar yang diperoleh Dana Keistimewaan yang bersumber dari APBD DIY, (diw)

Artikel yang Direkomendasikan