Semarak Jogja Literasi Festival 2019 di MAN 2 Yogyakarta

Yogyakarta (MAN2YK)- Kedatangan sastrawan muda Frischa Aswarini (Bali), Kiki Sulistyo (Lombok) dan Toni Lesmana (Jawa Barat) disambut meriah oleh siswa-siswi yang duduk lesehan di Gedung Cagar Budaya MAN 2 Yogyakarta, Sabtu (28/9).

Acara Bincang Sastra Milenial yang digelar kali ini adalah serangkaian kegiatan Jogja Literasi Festival (Joglitfest) 2019. Joglitfest adalah sebuah kegiatan festival sastra yang merangkum kepentingan stakeholder sastra di Yogyakarta. Menghadirkan 100 sastrawan baik nusantara maupun mancanegara, MAN 2 Yogyakarta menjadi salah satu tempat yang representatif untuk mendukung kegiatan ini.

MAN 2 Yogyakarta Turut Serta Ramaikan Jogja Literasi Festival 2019

MAN 2 Yogyakarta Turut Serta Ramaikan Jogja Literasi Festival 2019

Acara dibuka oleh Waka Kurikulum Evi Effrisanti yang menyampaikan pesan agar semua peserta memaksimalkan kesempatan yang ada dengan cara menyerap informasi sebanyak-banyaknya dan menanyakan apa saja terkait sastra. Acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Muhammad Amal Husni (XI IBB) dengan judul Nama Untuk Teman karya Toni Lesmana, Anindya Balqis (X IBB) berjudul Potret di atas Meja karya Frischa Aswarini. Pembacaan duet puisi berjudul Potret Kakek karya Toni Lesmana dibacakan oleh Muhammad Wildan  Fadlurrahman dan Fadhilah Muthia (XII IBB).

Selanjutnya ketiga sastrawan menyampaikan tips sekaligus motifasi untuk semua peserta yang hadir.” Luapkan semua emosi yang ada dengan tulisan, jangan hanya diangan-angan. Jangan pikirkan dulu bagus atau tidaknya. Karena nanti bisa dilakukan editing. Dan tulisan yang bagus itu jangan hanya disimpan sendiri, kita harus bagikan untuk orang lain juga,” ujar Frischa.

Disela penyampaian materi peserta juga dipersilahkan mengajukan pertanyaan. Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh Diva Meizahra siswa kelas XII IBB yang memang memiliki hobi membaca dan menulis. Diva yang sudah memiliki 30 cerpen ini meminta tips agar tulisannya bisa diterima dan layak tayang oleh penerbit.

Menanggapi hal ini Toni Lesmana Toni Lesmana memberikan tips agar memilih penerbit sesuai dengan hasil karyanya. Setelah menemukannya maka segera mengirimkan naskah kepada penerbit tersebut. “Ini akan mengasah kreativitas dan mental kita. Juga melatih kesabaran. Saya saja ada naskah yang dikirim baru tayang setelah 10 tahun kemudian,” imbuh Toni.

“Jika suatu waktu kau duduk di sebuah bangku dan bertanya padaku, apa sajak yang paling merdu?. Aku akan memberimu sebongkah batu. Kau mungkin takkan mengerti dan bertanya kembali, kenapa mesti batu ?. Sebab batu adalah hatiku yang matang oleh rindu. (Batu Rindu)” dibacakan spontanitas oleh Kiki Sulistyo dan membuat ruangan dipenuhi riuh tepuk tangan peserta.

Setelah acara bincang-bincang selesai ketiga sastrawan berkunjung ke perpustakaan MAN 2 yogyakarta dan menyampaikan beberapa pesan terkait ajakan literasi baik dengan menuliskan di kertas yang sudah disediakan maupun pesan lisan.(diw)

Komentar Anda

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.