Siswa MAN 2 Yogyakarta Ikuti Seminar dan Launching Santripreneur Indonesia Member Card

Kenyataan di Indonesia, saat ini, masih banyak pengangguran setelah menempuh studi bahkan setelah belajar di Perguruan Tinggi, diperlukan langkah penyiapan sejak dini untuk mengatasinya agar tidak semakin bertambah pada setiap tahunnya. Sangat penting menanamkan jiwa enterpreneur sejak dini pada diri pelajar agar survive menghadapi tantangan jaman globalisasi dan era revolusi industri 4.0. Hanya mereka yang memiliki bekal ketrampilan memadai yang dapat bertahan dan menakhlukkan tantangan berat.

Jiwa enterpreneur di kalangan pelajar perlu ditanamkan sejak dini. Dalam kurikulum 2013, pendidikan prakarya dan kewirausahaan diajarkan kepada semua siswa MA, SMA, SMK, anatara lain untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan.

Siswa MAN 2 Yogyakarta Ikuti Seminar dan Launching Santripreneur Indonesia Member Card

MAN 2 Yogyakarta dengan kepala madrasah, Drs. H. Mardi Santosa sangat mendorong semua kegiatan yang diikuti siswa untuk menumbuhkan kemampuan enterpreneur ini. Salah satunya mengikuti Seminar dan Launching Santripreneur Indonesia Member Card yang diselenggarakan UIN Sunan Kalijaga bertemakan, Menumbuhkan Semangat Santripreneur Guna Membangun Ekonomi Negeri. Kegiatan ini diikuti para santri dari berbagai daerah di DIY, yang dilaksanakan pada tanggal 13 Feb 2019 di Hall Convention Center lantai dua UIN Sunan Kalijaga. Ada empat belas siswa MAN 2 Yogyakarta yang mengikuti kegiatan ini didampingi dua guru, guru ekonomi, Retno Febriani dan guru prakarya, Hitaqi Millata.

Hitaqi Millata menjelaskan tentang rangkaian kegiatan yang diikutinya bersama siswa ini. Narasumber yang dihadirkan Prof. Purwo Santosa, Rektor Universitas Nadhatul Ulama (UNU) dengan moderator M. Ainul Rofiqin, alumni Universitas Brawijaya. Purwo Santosa menandaskan bahwa sudah saatnya santri keluar dari pojok pondok, memulai usaha perdagangan dengan bersungguh sungguh. “Santri tetap mengaji dan diamalkan. Walaupun berjejaring kecil namun banyak, akan jauh lebih kuat,” ungkapnya. Program Santripreneur ditargetkan menjadi salah satu wadah untuk menjembatani santri-santri yang memiliki jiwa wirausaha agar lebih inovatif dan berdaya saing. “Dalam hal ini, pemerintah mendorong para santri untuk memacu kemampuannya dalam berwirausaha terutama melalui peningkatan etos kerja, kreativitas dan inovasi, produktivitas, kemampuan membuat keputusan dan mengambil risiko, serta kerja sama yang saling menguntungkan dengan menerapkan etika bisnis,” jelasnya lagi.

Narasumber kedua, Tri saktiana, dari Al Mumtaz (Learning Ekosistem), Wakil Sekda DIY. Ia mengemukakan resiko jadi entrepreneur adalah rugi dan miskin. “Saat ini kita belum kaya berarti tidak menjadi masalah.  Semua santri bisa jadi pengusaha,” imbuhnya.

Acara ini terselenggara bekerjasama dengan BNI dan Santripreneur Indonesia. Salah satu siswa MAN 2 Yogyakarta,  Vicka Rachmania Pratiwi  mengungkapkan rasa senangnya mengikuti acara ini. ”Saya jadi tahu banyaknya peluang usaha yang ada di Yogyakarta, khususnya dalam bidang pengetahuan dan budaya,” ungkapnya riang. (ida)

Artikel yang Direkomendasikan