Air Mata Perpisahan, Hangatnya Kebersamaan: Guru Bahasa Jepang MAN 2 Yogyakarta, Satukan Hati dalam Iftar Ramadan Bersama Kadoi Sensei

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Suasana haru sekaligus hangat menyelimuti pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jepang DIY yang dikemas istimewa dalam kegiatan Iftar Ramadan dan farewell party pada Jumat (27/02/2026) di Tasneem Hotel Malioboro, Yogyakarta. Lebih dari sekadar forum akademik, MGMP Bahasa Jepang DIY menjelma menjadi ruang kebersamaan yang menghadirkan rasa kekeluargaan yang erat di antara para anggotanya.

Momentum ini menjadi semakin istimewa karena menandai akhir masa tugas Kadoi Minako, M.A., atau yang akrab disapa Kadoi Sensei, sebagai Japanese Language Specialist (JLS) dari The Japan Foundation. Selama tiga tahun mendampingi guru-guru Bahasa Jepang di wilayah DIY dan Jawa Tengah, Kadoi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar MGMP.

Rasa kehilangan pun dirasakan oleh para guru yang hadir. Diah Wijiastuti, S.S., guru Bahasa Jepang MAN 2 Yogyakarta, mengungkapkan kesan mendalam atas kebersamaan tersebut. “Banyak ilmu, kesan, dan pengalaman berharga selama tiga tahun bersama Kadoi Sensei. Kehadiran beliau menambah semangat kami untuk terus belajar dan mengajar dengan lebih baik. Terima kasih untuk semuanya,” tuturnya penuh haru.

Sebagai bentuk apresiasi dan kenangan, MGMP Bahasa Jepang DIY menyerahkan cenderamata yang disampaikan langsung oleh Ketua MGMP, Arman Adi Saputro, S.Pd. Momen tersebut menjadi simbol kuatnya ikatan emosional yang telah terjalin selama ini. Kadoi pun tak kuasa menyembunyikan rasa harunya atas sambutan hangat yang ia terima. “Terima kasih atas kerja samanya selama tiga tahun ini. Mari terus semangat belajar dan berkembang,” pesannya.

Usai prosesi perpisahan, kegiatan dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama dalam suasana penuh keakraban. Di sela-sela santap hidangan, para guru saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan berbagai isu pendidikan dan sosial. Menariknya, komunikasi dalam Bahasa Jepang turut mewarnai interaksi tersebut, menjadi praktik nyata dari pembelajaran yang selama ini diajarkan di kelas.

Kegiatan ini tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menegaskan bahwa belajar bahasa bukan sekadar teori, melainkan jembatan untuk membangun pemahaman, empati, dan persahabatan lintas budaya. MGMP Bahasa Jepang DIY pun kembali menunjukkan perannya sebagai komunitas belajar yang hidup, menguatkan kompetensi sekaligus merawat nilai kemanusiaan dalam balutan kebersamaan Ramadan. (Diah Wijiastuti_Bhs. Jepang)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp