Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Sebuah cerita dalam buku Laut Pasang 1994 karya Lilpudu membawa Aliya Zahra Artanti, siswa kelas X-A MAN 2 Yogyakarta, pada pengalaman membaca yang penuh emosi. Melalui kegiatan berbagi cerita buku di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta, Aliya mengungkapkan kesan dan pesan yang Ia temukan setelah menyelesaikan buku tersebut. Aliya menyampaikan ulasannya dengan penuh semangat pada Selasa (08/09/2026) pukul 12.15 WIB. Kegiatan tersebut berlangsung di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta bersama Pustakawan Nuryanti A. Md.
Dengan antusias, Aliya bercerita bahwa Laut Pasang
1994 menghadirkan kisah yang membuatnya ikut merasakan berbagai emosi tokoh di
dalamnya. Cerita dalam buku tersebut mengajak pembaca memahami arti
kebersamaan, kejujuran, serta pentingnya menghargai waktu bersama orang-orang
yang dicintai.
Selama membaca, Aliya mengaku merasa sedih karena
perjalanan cerita yang dialami para tokohnya membuat dirinya membayangkan
betapa berharganya waktu bersama orang tercinta. Baginya, ada momen-momen dalam
kehidupan yang tidak dapat diulang sehingga seharusnya dinikmati dan dihargai
selagi masih memiliki kesempatan.
Dari cerita tersebut, Aliya menangkap pesan moral yang
menurutnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia berpesan agar setiap
orang menggunakan waktu sebaik-baiknya bersama orang tercinta dan tidak
membohongi orang yang disayangi. Kejujuran dan kebersamaan, menurut Aliya,
merupakan hal yang perlu dijaga sebelum penyesalan datang.
Sementara itu, Nuryanti mengaku tersentuh mendengarkan
cerita Aliya. Menurutnya, cara Aliya menyampaikan kembali isi buku menunjukkan
bahwa membaca bukan sekadar menyelesaikan sebuah buku, tetapi juga dapat
membawa pembaca untuk merasakan emosi dan mengambil pelajaran dari cerita yang
dibacanya.
“Cerita yang disampaikan Aliya mengingatkan kita bahwa
waktu bersama orang-orang tercinta sangat berharga. Apa yang kita miliki hari
ini belum tentu bisa kita nikmati selamanya,” ujar Nuryanti.
Nuryanti menambahkan bahwa kegiatan berbagi pengalaman
membaca seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi di
lingkungan madrasah. Ketika siswa mampu menceritakan kembali isi buku sekaligus
menemukan nilai kehidupan di dalamnya, proses membaca menjadi lebih bermakna.
“Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi
bagaimana siswa mampu memahami, merasakan, dan mengambil nilai positif dari apa
yang dibacanya untuk diterapkan dalam kehidupan,” pungkas Nuryanti. (nur)
Berikan Komentar