Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – Keberanian untuk menghadapi ketakutan menjadi salah satu kunci dalam meraih kemajuan diri. Pesan inspiratif tersebut tergambar dalam buku Suku Penunggang Layang-Layang yang diulas oleh Aliya Zahra Artanti, siswi kelas X-A, dalam kegiatan Baca Balik Cerita (Calita) di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta, Rabu (14/10/2026), pukul 10.00 WIB, bersama pustakawan Nuryanti A. Md.
Dalam ulasannya,
Aliya menceritakan perjuangan Tetukong, anak seorang kepala suku yang harus
belajar menunggangi layang-layang demi memenuhi tuntutan sang ayah. Perjalanan
tersebut bukanlah hal yang mudah karena Tetukong harus menghadapi ketakutan
dalam dirinya. Namun, berkat keberanian untuk terus mencoba dan mengatasi rasa
takutnya, akhirnya Ia berhasil mengendarai layang-layang.
Bagi Aliya, kisah
tersebut menghadirkan pengalaman membaca yang seru sekaligus memberikan
pelajaran berharga tentang keberanian menghadapi tantangan. Perjuangan Tetukong
menunjukkan bahwa ketakutan bukanlah alasan untuk berhenti melangkah, melainkan
tantangan yang perlu dihadapi agar seseorang dapat berkembang menjadi lebih
baik.
Aliya
mengungkapkan bahwa buku tersebut mengajarkannya untuk tidak mudah menyerah
ketika menghadapi sesuatu yang menakutkan. Menurutnya, seseorang perlu
memberanikan diri untuk mencoba hal-hal baru agar dapat memperoleh pengalaman
dan kemampuan yang lebih baik.
Pesan moral yang
dipetik Aliya dari buku tersebut adalah pentingnya keberanian untuk mencoba
demi kemajuan diri. Seseorang tidak seharusnya membiarkan rasa takut
menghalangi langkahnya untuk belajar, bertumbuh, dan meraih kemampuan yang
lebih baik.
Pustakawan MAN 2
Yogyakarta, Nuryanti A.Md., menyampaikan bahwa kegiatan Calita menjadi salah
satu upaya untuk menumbuhkan budaya literasi yang tidak hanya berorientasi pada
kebiasaan membaca, tetapi juga pada kemampuan siswa dalam memahami dan
mengambil hikmah dari sebuah cerita.
“Melalui Calita,
kami ingin mengajak siswa untuk menemukan nilai-nilai kehidupan di balik setiap
buku yang dibaca. Kisah Tetukong mengajarkan bahwa keberanian tumbuh ketika
seseorang bersedia menghadapi ketakutannya. Kami berharap pengalaman membaca
ini dapat menginspirasi siswa untuk terus belajar, mencoba hal-hal baru, dan
tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita,” ungkap Nuryanti.
Melalui kegiatan
Calita, Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta terus mendorong siswa untuk tidak sekadar
membaca, tetapi juga memahami nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam
setiap cerita. Kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan berbagi inspirasi melalui
buku yang dibacanya.
Satu cerita,
sejuta makna. Kisah Tetukong mengingatkan bahwa setiap langkah menuju kemajuan
membutuhkan keberanian. Sebab, ketika seseorang berani menaklukkan
ketakutannya, terbukalah jalan menuju kemampuan dan pengalaman baru.
Dengan semangat
Baca Balik Cerita (Calita), Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta terus berupaya
menumbuhkan kecintaan membaca dan menjadikan buku sebagai sahabat perjalanan
siswa dalam menemukan pengetahuan, keberanian, serta inspirasi kehidupan.
Berikan Komentar