Alya Syifa Fauziyah Thamrin Mengulik Ketidakadilan dan Ketamakan dalam “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta

Alya Syifa Fauziyah Thamrin Mereview Buku Bersama Nuryanti A.Md

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Membaca bukan sekadar menuntaskan halaman demi halaman, tetapi juga mengajak pembaca berpikir, mempertanyakan keadaan, dan melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Semangat tersebut tampak dalam kegiatan literasi di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta ketika Alya Syifa Fauziyah Thamrin, siswa kelas X H, membagikan ulasannya terhadap buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye, Rabu (16/09/2026) pukul 12.30 WIB bersama Pustakawan MAN 2 Yogyakarta, Nuryanti, A.Md.

Buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar mengajak pembaca menyelami berbagai persoalan sosial. permasalahan tersebut  tentang ketidakadilan, kepentingan, kekuasaan, serta bagaimana uang dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan. Melalui cerita yang penuh sindiran dan kritik, Tere Liye mendorong pembaca untuk tidak mudah menerima keadaan begitu saja, melainkan berani berpikir kritis dan memahami persoalan di balik berbagai kepentingan.

Bagi Alya, proses membaca buku tersebut justru memunculkan rasa kesal. Ia merasa terganggu dengan berbagai situasi dalam cerita yang memperlihatkan bagaimana kepentingan dan uang dapat membuat seseorang mengabaikan nilai keadilan. Namun, rasa kesal tersebut menjadi bagian menarik dari pengalaman membacanya karena membuat Alya semakin terdorong untuk memahami pesan yang ingin disampaikan penulis.

Menurut Alya, salah satu pelajaran penting yang diperoleh dari buku tersebut adalah jangan mudah diperdaya oleh uang. Uang memang diperlukan dalam kehidupan, tetapi tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan prinsip, mudah dimanfaatkan, atau mengorbankan nilai kebenaran.

Pustakawan MAN 2 Yogyakarta, Nuryanti, A.Md., mengapresiasi pilihan bacaan Alya yang menghadirkan tema sosial dan mengajak pembaca berpikir lebih kritis. “Buku ini menarik karena tidak hanya menyuguhkan cerita, tetapi juga mengajak pembaca melihat bagaimana uang, kepentingan, dan kekuasaan dapat memengaruhi kehidupan manusia. Yang terpenting, pembaca tidak berhenti pada rasa kesal, tetapi mampu mengambil pelajaran dan membangun sikap kritis agar tidak mudah diperdaya oleh kepentingan orang lain,” tuturnya.

Kegiatan review buku ini menjadi bagian dari upaya Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta untuk terus menghidupkan budaya literasi melalui kegiatan Baca, Balik, Cerita. Setiap buku yang dibaca menjadi pintu menuju pengetahuan, sementara setiap cerita yang dibagikan dapat menjadi inspirasi bagi pembaca lainnya. Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi tentang belajar memahami kehidupan melalui setiap cerita yang kita baca. (nur)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp