Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Mengawali Senin pagi (19/01/2026), suasana khidmat menyelimuti lapangan upacara MAN 2 Yogyakarta. Dalam amanatnya di hadapan murid kelas XI sebagai pembina upacara, Fajar Rahmadi, S.Pd., M.Sc., mengajak seluruh peserta upacara menapaki sebuah perjalanan reflektif, bukan sekadar pemahaman teknis ibadah, melainkan penghayatan spiritual tentang makna wudhu dan shalat sebagai fondasi kejernihan jiwa.
Fajar
Rahmadi menegaskan bahwa ibadah dalam Islam sejatinya dimulai jauh sebelum
seseorang berdiri di atas sajadah. “Anak-anakku, wudhu dengan khusuk. Sejak
tetesan air pertama menyentuh kulit, di sanalah pintu spiritual dibuka,”
tuturnya. Wudhu disebutnya sebagai gerbang kesucian, sementara shalat adalah
mi’raj, perjalanan naik, bagi orang beriman.
Dalam
penjelasannya, pembina upacara mengurai filosofi wudhu sebagai simbol
pembersihan lahir dan batin. Selain bernilai ibadah, wudhu juga membawa manfaat
kesehatan. Gerakan membasuh wajah, tangan, dan kaki, menurutnya, merangsang
titik-titik saraf yang membantu relaksasi serta melancarkan sirkulasi darah.
Ia
kemudian mengingatkan kembali tata cara wudhu sesuai sunnah: dimulai dengan
niat dan basmalah, membasuh telapak tangan, berkumur dan istinsyaq, membasuh
wajah, tangan hingga siku, mengusap kepala dan telinga, membasuh kaki hingga
mata kaki, dilakukan secara tertib, serta ditutup dengan doa setelah wudhu.
“Ketertiban dalam wudhu melatih disiplin hati sebelum menghadap Allah,”
pesannya.
Jika
wudhu adalah persiapan, maka shalat adalah puncak perjumpaan spiritual. Fajar
Rahmadi menegaskan kedudukan shalat sebagai tiang agama dan penentu kualitas
amal seorang Muslim. Mengutip firman Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 45, ia
mengingatkan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Lebih
jauh, shalat dipaparkannya sebagai penggugur dosa, cahaya di hari kiamat, serta
amalan pertama yang akan dihisab. Dari sisi psikologis, gerakan shalat yang
dilakukan dengan khusuk disebutnya sebagai terapi jiwa, bentuk meditasi
tertinggi yang menghadirkan ketenangan (tuma’ninah) di tengah hiruk-pikuk
kehidupan modern.
Menutup
amanatnya, pembina upacara mengajak seluruh warga madrasah untuk memandang
wudhu dan shalat sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Wudhu
mempersiapkan kondisi fisik dan mental, sementara shalat menjadi ruang dialog
langsung antara hamba dan Sang Pencipta.
“Menjaga
wudhu dan shalat bukan hanya kewajiban agama, tetapi kebutuhan manusia untuk
menyeimbangkan hidup,” pungkasnya. Amanat tersebut meninggalkan kesan mendalam,
meneguhkan kembali bahwa kebersihan fisik yang disertai kesadaran iman akan
melahirkan kejernihan jiwa, sebuah bekal penting bagi generasi madrasah dalam
menapaki tantangan zaman. (pusp)
Berikan Komentar