Atqiyya Fathin Majida Temukan Makna Kehidupan dalam Novel Maktub dalam Kegiatan Literasi di MAN 2 Yogyakarta

Atqiyya Fathin Majida Meriview Buku Bersama Nuryanti A.Md

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) - Sebuah cerita tentang ulat yang berubah menjadi kupu-kupu membawa Atqiyya Fathin Majida, siswa kelas XB MAN 2 Yogyakarta, pada sebuah perenungan tentang kehidupan. Melalui buku Maktub karya Paulo Coelho yang dibacanya, Atqiyya menemukan pesan bahwa setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang telah dituliskan oleh Allah SWT.

Atqiyya membagikan hasil review bukunya dalam program “Baca, Balik, Cerita!” di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta, bersama Pustakawan Nuryanti A.Md, Kamis (03/09/2026) pukul 12.30 WIB. Ia menceritakan bahwa Maktub berisi kumpulan cerita refleksi diri dan transformasi batin yang mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih dalam.

Di antara berbagai cerita dalam buku tersebut, kisah tentang ulat yang kemudian berubah menjadi kupu-kupu menjadi bagian yang paling berkesan bagi Atqiyya. Baginya, perubahan tersebut menggambarkan perjalanan manusia yang terkadang harus melewati masa-masa sulit sebelum akhirnya menemukan bentuk terbaik dalam dirinya.

“Ketika kita merasa terpuruk dan merasa diri kita jelek, belum tentu keadaan itu akan berlangsung selamanya. Bisa jadi, di kemudian hari kita justru berubah menjadi sosok yang lebih baik dan menawan,” ungkap Atqiyya.

Dari kisah tersebut, Atqiyya menangkap pesan moral agar manusia senantiasa khusnudhon atau berbaik sangka kepada Allah SWT. Ia meyakini bahwa setiap keadaan yang dialami manusia memiliki hikmah dan tujuan. Karena itu, ketika menghadapi kesulitan atau sesuatu yang tidak sesuai harapan, manusia hendaknya tetap percaya bahwa Allah SWT sedang menyiapkan sesuatu yang terbaik.

Pustakawan MAN 2 Yogyakarta, Nuryanti A. Md., mengaku tersentuh dengan pemaknaan Atqiyya terhadap kisah tersebut.

 

“Yang membuat saya tersentuh adalah cara Atqiyya melihat kisah ulat dan kupu-kupu bukan sekadar sebagai cerita tentang perubahan, tetapi sebagai gambaran perjalanan hidup manusia. Ada masa ketika kita merasa rendah dan tidak berarti, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana Allah akan mengubah keadaan kita di kemudian hari,” tutur Nuryanti.

Nuryanti juga mengapresiasi Atqiyya yang mampu menyampaikan isi buku sekaligus menghubungkannya dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kemampuan menemukan makna dari sebuah bacaan merupakan salah satu tujuan penting dari gerakan literasi di madrasah.

“Melalui “Baca, Balik, Cerita”, kami ingin siswa tidak hanya membaca buku, tetapi juga menemukan nilai, merenungkannya, kemudian berani menceritakannya kembali. Setiap buku punya cerita, dan setiap pembaca bisa menemukan makna yang berbeda,” pungkas Nuryanti.

Melalui program “Baca, Balik, Cerita!”, Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta terus memberikan ruang bagi siswa untuk berbagi pengalaman membaca. Dari sebuah buku, lahir cerita; dari sebuah cerita, tumbuh refleksi; dan dari refleksi, diharapkan lahir pribadi yang semakin bijaksana. (nur)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp