Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) - Baca, Balik, Cerita di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta. Pinjam bukunya, kembalikan bukunya jangan simpan sendiri ceritanya, ceritakan isinya pada Pustakawan, isi review di Google Form dan dapatkan hadiahnya. Bagi reviewer teraktif setiap bulan akan mendapat sertifikat penghargaan dan apresiasi uang tunai senilai Rp. 25.000,-.
Novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye menjadi salah satu bacaan favorit siswa MAN 2 Yogyakarta terutama Gendis Amalia Kayana siswa kelas XI C. Ia mereview buku tersebut bersama pustakawan MAN 2 Yogyakarta, Nuryanti A. Md, Kamis, 21 Mei 2026 pukul 07.10 setelah KBM Tahfidz di Perpustakaan.
Buku
ini mengisahkan cerita penuh emosi tentang cinta, kehilangan, pengorbanan, dan
keikhlasan yang di tulis dengan bahasa sederhana namun menyentuh hati pembaca. Tokoh
utama dalam novel ini adalah Tania, seorang gadis sederhana yang hidupnya
berubah setelah bertemu Danar, pria baik hati yang membantu kehidupannya sejak
kecil. Seiring waktu, rasa kagum Tania berubah menjadi cinta yang dalam. Namun,
hubungan mereka tidak berjalan mudah karena perbedaan usia dan keadaan hidup
yang membuat Tania harus belajar menerima kenyataan pahit.
Melalui
cerita ini, pembaca diajak memahami bahwa tidak semua rasa harus dimiliki.
Kadang, mencintai berarti merelakan dan tetap mendoakan kebahagiaan orang yang
dicintai. Judul novel ini menjadi simbol dari sikap ikhlas, seperti daun yang
jatuh tanpa pernah membenci angin yang menjatuhkannya.
Selain alur cerita yang menguras perasaan, gaya penulisan Tere Liye juga menjadi daya tarik utama. Kalimat-kalimat dalam novel terasa puitis, hangat, dan penuh makna sehingga mudah membekas di hati pembaca.Dengan cerita yang kuat dan pesan moral tentang ketulusan, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin layak menjadi salah satu novel Indonesia yang direkomendasikan untuk menemani waktu santai maupun refleksi diri.
Nuryanti terkesan dengan gaya bertutur gendis yang ceria namun pelan dan tertata, menjadikan kegiatan review buku semakin menarik dan hidup. Menurut Nuryanti, novel ini memberikan pelajaran berharga tentang ketulusan dan keikhlasan dalam mencintai seseorang. Ceritanya mampu menyentuh perasaan pembaca dan membuat siapa saja lebih memahami arti merelakan dengan tulus. Nuryanti juga mengatakan bahwa novel ini sangat cocok dibaca saat ingin menenangkan hati dan merenungkan kehidupan. (nur)
Berikan Komentar