Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – Menyambut tahun ajaran baru 2026/2027 dengan semangat transformasi dan soliditas tinggi, MAN 2 Yogyakarta menggelar kegiatan Character Building yang dirangkaikan dengan Rapat Kerja (Raker) di kawasan sejuk Merapi Glamping, Kaliurang, Sleman, Senin (29/6/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis madrasah untuk memastikan bahwa kesiapan menghadapi tahun ajaran baru tidak hanya ditopang oleh program kerja dan perangkat kurikulum, tetapi juga oleh karakter, integritas, dan kualitas sumber daya manusia yang menggerakkannya.
Kegiatan
dihadiri Pengawas Madrasah Aliyah Kementerian Agama Kota Yogyakarta, Evi
Efrisanti, S.TP., Ketua Komite MAN 2 Yogyakarta, Nur Abadi, M.A., Kepala MAN 2
Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., serta Kepala Tata Usaha MAN 2
Yogyakarta, Susana Widyawati, S.Pd., M.Pd, bersama seluruh unsur pimpinan,
guru, dan tenaga kependidikan. Perpaduan antara penyusunan program kerja dan
pelatihan karakter dipilih sebagai upaya menyelaraskan arah kebijakan madrasah
dengan kesiapan mental, loyalitas, serta semangat kolaborasi seluruh warga
madrasah dalam menghadapi dinamika pendidikan yang terus berkembang.
Suasana
penuh antusias semakin terasa ketika M. Riza Perdana Kusuma hadir sebagai
narasumber utama. Pakar pengembangan kepemimpinan dan pembicara praktisi
profesional itu membagikan pengalaman panjangnya selama lebih dari 25 tahun
berkarier sebagai eksekutif di berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN),
termasuk pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Indonesia Ferry Property.
Berbekal pengalaman tersebut, ia mengajak peserta melihat bahwa organisasi yang
unggul tidak dibangun semata-mata oleh sistem yang baik, tetapi oleh
manusia-manusia yang memiliki karakter kuat, integritas tinggi, kemampuan
beradaptasi, serta kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan
(customer-centric leadership).
Dalam
pemaparannya, Riza menegaskan bahwa transformasi karakter bukan sekadar
meningkatkan kemampuan teknis. Transformasi sejati adalah menyelaraskan
komitmen seluruh anggota organisasi, membangun budaya keunggulan, serta menjaga
keseimbangan hidup (life balance) agar produktivitas tetap terjaga secara
berkelanjutan.
Namun,
yang membuat penyampaian materi terasa begitu menginspirasi bukan hanya karena
pengalaman profesionalnya, melainkan juga karena nilai-nilai kehidupan yang ia
jalani. Di balik sosok pemimpin yang tegas dan visioner, Riza dikenal sebagai
pribadi religius yang menjadikan ibadah sebagai fondasi kepemimpinan. Dalam
sesi berbagi inspirasi, ia mengungkapkan komitmennya menjalankan puasa Daud
sebagai latihan kedisiplinan, pengendalian diri, dan upaya menjaga kejernihan
hati dalam setiap keputusan yang diambil.
Lebih
dari itu, peserta dibuat terenyuh ketika mendengar filosofi hidup yang
dipegangnya. Ia mengaku memiliki satu cita-cita sederhana namun begitu
mendalam, yakni ingin mengakhiri hidup dalam keadaan tersenyum karena telah
meninggalkan manfaat bagi banyak orang. Baginya, warisan terbaik bukanlah
jabatan atau kekayaan, melainkan amal jariyah yang terus mengalir melalui
pembangunan perpustakaan, fasilitas pendidikan, serta sarana dan prasarana yang
dapat dimanfaatkan masyarakat luas. Prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa
keberhasilan seorang pemimpin sejatinya diukur dari seberapa besar manfaat yang
mampu diwariskan kepada generasi berikutnya.
Semangat
belajar yang dimilikinya pun menjadi teladan. Meski telah mencapai puncak
karier sebagai pimpinan perusahaan BUMN, Riza tidak pernah berhenti
mengembangkan diri. Hingga kini ia masih menempuh Program Doktor (S3) di bidang
Psikologi, karena meyakini bahwa memahami karakter dan perilaku manusia
merupakan fondasi penting dalam membangun organisasi yang sehat, produktif, dan
berdaya saing.
Tidak
sedikit peserta yang mengagumi penampilannya yang energik dan tampak awet muda.
Bagi Riza, rahasia itu bukan terletak pada penampilan fisik semata, melainkan
pada semangat belajar yang tidak pernah padam, kedisiplinan menjalani hidup,
serta kebahagiaan karena dapat terus memberi manfaat bagi sesama. Aura
optimisme dan ketulusan itulah yang membuat sosoknya begitu mudah
menginspirasi.
Salah
satu materi yang paling menarik perhatian peserta adalah konsep followership.
Menurut Riza, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas
pemimpinnya, tetapi juga oleh kualitas para pengikutnya. Kepemimpinan merupakan
proses relasional yang dibangun bersama antara pemimpin dan anggota tim.
Organisasi yang hebat lahir ketika pemimpin dan pengikut memiliki visi,
komitmen, dan rasa tanggung jawab yang sama terhadap tujuan organisasi.
Ia
menjelaskan empat karakter utama effective followers, yaitu self-management,
kemampuan mengelola diri dan bekerja mandiri tanpa selalu menunggu arahan;
competence, komitmen untuk terus meningkatkan kompetensi agar tetap relevan;
commitment, loyalitas terhadap visi dan tujuan organisasi, bukan sekadar kepada
figur pemimpin; serta courage, keberanian menyampaikan kebenaran dan memberikan
masukan secara konstruktif ketika diperlukan. Sebuah kalimat sederhana namun
kuat menjadi penegas materi tersebut, "Good followers don't necessarily
obey blindly." Pengikut yang baik bukanlah mereka yang selalu patuh tanpa
berpikir, melainkan mereka yang berani berpikir kritis demi kemajuan
organisasi.
Riza
juga mengingatkan bahwa ekspektasi terhadap seseorang akan berubah seiring
peningkatan jenjang karier. Pada level awal, seseorang dituntut disiplin,
produktif, dan menguasai pekerjaan. Memasuki level manajerial, fokus beralih
pada kemampuan mendelegasikan tugas, membimbing tim, berpikir strategis,
membangun jejaring, mengelola perubahan, hingga mengambil keputusan yang
berdampak luas. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar tuntutan
terhadap kemampuan kepemimpinan dibanding sekadar kemampuan teknis.
Materi
ditutup dengan pembahasan mengenai cognitive overload, sebuah fenomena yang
semakin relevan di era digital. Paparan informasi yang datang tanpa henti
melalui media sosial seperti TikTok, YouTube, Instagram, dan X, ditambah
kebiasaan memeriksa notifikasi secara terus-menerus, dapat menyebabkan
kelelahan otak, menurunkan konsentrasi, mengurangi produktivitas, bahkan
memengaruhi kualitas pengambilan keputusan. Oleh karena itu, kemampuan
mengelola perhatian (attention management) menjadi kompetensi penting bagi
setiap individu yang ingin tetap produktif di tengah derasnya arus informasi.
Melalui
kegiatan Character Building ini, MAN 2 Yogyakarta menegaskan bahwa membangun
madrasah unggul tidak cukup hanya dengan menyusun program kerja yang baik.
Dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki integritas, semangat belajar
sepanjang hayat, keberanian menyampaikan kebenaran, kemampuan beradaptasi,
serta orientasi untuk terus memberi manfaat kepada sesama.
Character
Building tahun ini bukan sekadar agenda pembuka Rapat Kerja, melainkan momentum
untuk meneguhkan kembali nilai-nilai yang akan menjadi ruh perjalanan MAN 2
Yogyakarta pada tahun ajaran 2026/2027. Ketika setiap guru dan tenaga
kependidikan mampu memimpin dirinya sendiri, menjadi pengikut yang berkualitas,
dan terus bertumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat, maka budaya kerja yang
profesional, harmonis, dan berintegritas akan tumbuh dengan sendirinya.
"Transformasi
terbaik bukan dimulai dari perubahan sistem, tetapi dari perubahan karakter
manusia yang menjalankannya." Pesan itulah yang menggema sepanjang
kegiatan, sekaligus menjadi bekal berharga bagi keluarga besar MAN 2 Yogyakarta
untuk terus melangkah, berkarya, dan menghadirkan pendidikan yang bermutu serta
penuh kebermanfaatan bagi masyarakat. (pusp)
Berikan Komentar