Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Madrasah tidak hanya mencetak lulusan, tetapi melahirkan insan yang memberi makna bagi zamannya. Spirit inilah yang tergambar kuat dalam perjalanan Dicky Artanto, alumni MAN 2 Yogyakarta (MandaYa) angkatan 2017, yang hingga kini konsisten mengabdikan diri di dunia dakwah, pendidikan, dan gerakan keumatan.
Selepas
menamatkan pendidikan di MAN 2 Yogyakarta, Dicky melanjutkan studi Strata 1 dan
Strata 2 di UIN Sunan Kalijaga, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam,
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Pilihan akademiknya sejalan dengan
panggilan pengabdian yang telah tumbuh sejak bangku madrasah: membangun umat
melalui jalur pendidikan dan dakwah yang mencerahkan.
Sejak
remaja, Dicky dikenal aktif dalam kegiatan organisasi dan dakwah di Kota
Yogyakarta dan sekitarnya. Aktivisme itu kian terasah saat masa kuliah, ketika
ia terlibat aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan sempat dipercaya
sebagai calon Ketua BEM Fakultas. Pengalaman tersebut membentuk kepemimpinannya,
berbasis nilai, dialog, dan keberpihakan pada kemaslahatan.
Namun,
kenangan paling membekas justru lahir dari aktivitas kesiswaan di MAN 2
Yogyakarta, khususnya melalui ekstrakurikuler Corps Muballigh (CM). Bersama
rekan-rekannya, ia mengikuti program Muballigh Hijrah dengan terjun langsung ke
desa-desa. Dari pengalaman itulah Dicky memahami hakikat dakwah: merangkul,
bukan memukul; menguatkan, bukan menghakimi. Islam, sebagaimana ia yakini
hingga kini, adalah rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam.
Nilai-nilai
yang ditanamkan MandaYa tersebut terus hidup dan mewujud dalam kiprah nyatanya.
Saat ini, Dicky mengemban amanah sebagai Ketua Umum BADKO TKA-TPA Kota
Yogyakarta, berperan aktif dalam penguatan pendidikan Al-Qur’an sejak usia
dini. Ia juga mengabdikan diri sebagai dosen tetap di Sekolah Tinggi Agama
Islam Terpadu Yogyakarta, yang berlokasi di Jalan Mendung Warih, Giwangan,
Umbulharjo, Yogyakarta.
Tak
hanya di ranah pendidikan dan dakwah, kontribusinya juga menjangkau bidang
kebudayaan. Dicky pernah dipercaya sebagai Duta Museum DIY periode 2020–2022,
menunjukkan bahwa nilai keislaman, keilmuan, dan kecintaan pada sejarah dapat
berjalan beriringan.
Kisah
Dicky Artanto menjadi potret keberhasilan MAN 2 Yogyakarta dalam membentuk
karakter peserta didik yang utuh, cerdas secara intelektual, matang secara
spiritual, dan tangguh dalam pengabdian sosial. Dari MandaYa untuk umat, jejak
alumni ini menegaskan bahwa madrasah adalah ruang lahirnya pemimpin yang
menebar manfaat dan menghadirkan cahaya bagi sesama.
Pada
masa itu, ekstrakurikuler Corps Muballigh (CM) berada di bawah pembinaan
Syaikhul Anwar, yang kala itu masih akrab disapa Ustaz Syaikhul. Sosok pembina
yang sabar dan membumi ini turut membentuk cara pandang Dicky dan
rekan-rekannya dalam berdakwah, bahwa dakwah harus hadir dengan keteladanan,
dialog, dan kepekaan sosial. Pendampingan yang konsisten dan penuh ketulusan
itulah yang menjadikan CM bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan
ruang pembentukan karakter dan kesadaran keumatan.
Selain
pembina CM, Dicky juga mengenang dengan penuh hormat para guru MAN 2 Yogyakarta
yang meninggalkan kesan mendalam dalam perjalanan intelektual dan spiritualnya.
Mereka adalah Hanif Latif, Riza Faozi, Reva Yondra, Fajar Basuki, Muthmainnah,
Yuni, Retno Nur Wulandari, Riyantari, serta Puguh dan lainnya yang tidak dapat disebutkannya satu persatu.
Bagi
Dicky, para guru tersebut bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi pendidik
sejati yang menanamkan nilai disiplin, keikhlasan, keluasan berpikir, dan
keberanian untuk mengabdi. Jejak keteladanan merekalah yang turut menguatkan
langkahnya hingga kini, membuktikan bahwa MAN 2 Yogyakarta adalah rumah
tumbuhnya insan pembelajar yang berkarakter dan berdampak. (pusp)
Berikan Komentar