YOGYAKARTA – MAN 2 Yogyakarta kembali membuktikan komitmennya sebagai madrasah pencetak generasi literat melalui agenda Presentasi Makalah STARLing (Studi Akademik dan Riset Lingkungan). Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (24/2) ini digelar secara paralel di dua lokasi, yakni Masjid Lantai 2 dan Ruang Broadcasting.
Dibersamai oleh pembimbing Siti Nur
Suciowati, S.HI. dan Nurul Zullaeqa, S.Pd., para siswa kelas 11 memaparkan
hasil riset mendalam mereka terhadap berbagai objek sejarah, budaya, dan
lingkungan di Yogyakarta.
Eksplorasi Multidisiplin: Biota Laut
hingga Arsitektur Religi
Presentasi tahun ini mencakup spektrum
penelitian yang sangat luas, menunjukkan ketajaman berpikir siswa dalam melihat
fenomena di sekitarnya. Beberapa topik unggulan yang dipaparkan antara lain:
- Ekosistem
Pesisir: Eksplorasi biota laut di Pantai Sepanjang sebagai upaya nyata
pelestarian ekosistem laut.
- Identitas
Budaya & Religi: Bedah nilai keislaman dan budaya lokal pada
arsitektur Masjid Gedhe Kauman sebagai simbol identitas masyarakat
Yogyakarta.
- Edukasi
Sejarah: Interpretasi sejarah Sumbu Filosofi di kawasan Titik Nol
Kilometer dan revitalisasi Museum Sonobudoyo sebagai media edukasi sejarah
Jawa.
- Ketahanan
Pangan Lokal: Analisis kepuasan konsumen terhadap UMKM Tiwul Ayu Gendis
Manis dalam mengangkat potensi pangan lokal.
Membangun Karakter: "Lebih Percaya
Diri dan Kritis"
Lebih dari sekadar tugas akademik,
STARLing menjadi panggung bagi siswa untuk melatih kemampuan public speaking
. Dua siswa peserta, Embun dan Fadila Kelas XI G, mengungkapkan kesan mendalam
mereka setelah menyelesaikan sesi presentasi.
"Tampil di depan teman-teman dan
guru membuat kami jauh lebih percaya diri (PD). Lewat diskusi tadi, kami tidak
hanya menyampaikan hasil penelitian, tetapi juga mendapatkan sudut pandang baru
tentang objek yang kami bahas. Benar-benar pengalaman yang seru," ungkap
mereka.
Output Ilmiah dan Penguatan Karakter
Program STARLing dirancang sebagai
jembatan bagi siswa untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya ada di
bangku kelas, tetapi tersebar di lingkungan sekitar. Dengan meneliti Sumbu
Filosofi hingga UMKM lokal, siswa belajar untuk menghargai warisan budaya
sekaligus berpikir solutif terhadap isu lingkungan.
Dengan suksesnya agenda presentasi ini, MAN 2 Yogyakarta terus konsisten mencetak lulusan yang memiliki mentalitas periset, berwawasan luas, dan bangga terhadap kekayaan kearifan lokal. (Larissa)
Berikan Komentar