Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Di tengah derasnya arus informasi, menguatnya polarisasi sosial, serta tantangan intoleransi dan penyebaran hoaks di ruang digital, pendidikan memiliki tugas yang semakin besar. Sekolah dan madrasah tidak cukup hanya melahirkan generasi berprestasi secara akademik. Pendidikan juga dituntut membentuk manusia yang mampu hidup dalam keberagaman, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan bangsa.
Kesadaran itulah yang mendorong Dra. Ida Puspita, M.Pd.Si, guru MAN 2 Yogyakarta, untuk terus memperkuat kapasitas profesionalnya. Ia mengikuti Pembelajaran Mandiri/Massive Open Online Course (MOOC) Pelatihan Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Semarang, Kementerian Agama Republik Indonesia. Pelatihan berlangsung pada 6–18 Juli 2026 dengan durasi 8 Jam Pelajaran (JP).
Dalam proses pembelajaran, peserta menggunakan bahan ajar Wawasan Kebangsaan: Membangun Karakter Bangsa yang Berlandaskan PBNU yang disusun oleh Drs. Gunawan, M.Pd. dari Balai Diklat Keagamaan Semarang. Bahan ajar tersebut mengupas secara luas fondasi kehidupan kebangsaan Indonesia, mulai dari pengertian dan landasan wawasan kebangsaan hingga peran strategis ASN dan guru dalam menjaga persatuan.
Materi pelatihan membahas pengertian wawasan kebangsaan, unsur-unsur berupa rasa kebangsaan, paham kebangsaan, semangat persatuan, cinta tanah air, dan kesadaran bernegara. Peserta juga mendalami landasan wawasan kebangsaan yang mencakup Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Tidak berhenti pada tataran konsep, pelatihan juga mengajak peserta memahami nilai-nilai dasar kebangsaan, antara lain cinta tanah air, rela berkorban, persatuan dan kesatuan, gotong royong, toleransi, mengutamakan kepentingan bangsa, serta menghargai keberagaman. Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi perubahan sosial yang cepat dan ruang digital yang kerap dipenuhi informasi tanpa verifikasi.
Materi lain yang dipelajari meliputi Empat Pilar Kebangsaan, kedudukan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, makna lima sila Pancasila, implementasi nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, upaya menjaga keutuhan NKRI, ancaman separatisme, radikalisme dan disintegrasi, makna Bhinneka Tunggal Ika, serta unsur-unsur identitas nasional Indonesia.
Bagi Ida, bagian yang sangat relevan dengan profesinya adalah pembahasan mengenai peran guru sebagai agen perubahan. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai moral, sosial, dan kebangsaan. Dalam bahan ajar, guru ditempatkan sebagai sosok strategis untuk membangun karakter peserta didik yang nasionalis, toleran, disiplin, jujur, bertanggung jawab, peduli terhadap sesama, serta mampu menghargai perbedaan.
“Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang mencintai bangsanya, menghormati perbedaan, dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan. Nilai kebangsaan tidak cukup dihafalkan, tetapi perlu dihidupkan dalam perilaku sehari-hari,” ujar Ida.
Menurutnya, ruang kelas dapat menjadi tempat penting untuk merawat Indonesia. Dari diskusi yang menghargai perbedaan pendapat, kerja kelompok tanpa diskriminasi, pembiasaan musyawarah, hingga literasi digital untuk menangkal hoaks, guru dapat menghadirkan nilai kebangsaan dalam pengalaman nyata peserta didik.
Pelatihan juga menawarkan sejumlah strategi penguatan wawasan kebangsaan melalui pendidikan karakter, projek kebangsaan, kegiatan ekstrakurikuler, gotong royong, dialog lintas budaya dan agama, serta pelestarian budaya lokal. Di lingkungan sekolah, kegiatan seperti festival budaya, pidato kebangsaan, bakti sosial, diskusi kebhinekaan, Pramuka, Paskibra, PMR, dan organisasi siswa dapat menjadi ruang pembelajaran karakter yang konkret.
Bagi Ida, keikutsertaan dalam pelatihan bukan sekadar upaya memperoleh tambahan pengetahuan. Ia ingin membawa hasil belajar itu kembali ke madrasah, mengintegrasikannya dalam pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, dan interaksi sehari-hari bersama peserta didik.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa merawat kebangsaan dapat dimulai dari tindakan yang tampak sederhana: seorang guru yang terus belajar, ruang kelas yang menghargai perbedaan, dan peserta didik yang dibimbing untuk memahami bahwa Indonesia dibangun bukan dengan menyeragamkan keberagaman, melainkan dengan merawatnya.
Dari MAN 2 Yogyakarta, semangat itu terus tumbuh. Sebab masa depan persatuan bangsa, pada akhirnya, juga dibentuk dari ruang-ruang pendidikan tempat generasi muda belajar mengenal dirinya, menghargai sesamanya, dan mencintai Indonesia. (pusp)
Berikan Komentar