Yogyakarta
(MAN 2 Yogyakarta) – Suasana berbeda tampak dalam pembelajaran Fiqih di kelas X.
Selasa (09/02/2026), pembelajaran tidak lagi identik dengan metode ceramah yang
monoton, kini pembelajaran Fiqih dikemas lebih menarik, interaktif, dan
menyenangkan melalui pendekatan “Fiqih Goes Fun”. Inovasi ini berhasil
menghadirkan semangat baru bagi siswa dalam memahami materi keislaman yang
aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam
pelaksanaannya, guru menghadirkan berbagai metode kreatif seperti diskusi
kelompok, permainan edukatif, simulasi praktik ibadah, hingga pemanfaatan media
digital ”75 Interactive Signage Flip”. Dengan pendekatan ini, murid
dapat meningkatkan kualitas diri dan memanfaatkan media digital secara
bersamaan. Materi yang diajarkan pun tidak hanya berfokus pada teori, tetapi
juga praktik langsung, seperti tata cara wudhu, tayamum, dan shalat yang benar
sesuai tuntunan syariat.
Antusiasme
siswa terlihat jelas selama proses pembelajaran berlangsung. Mereka aktif
bertanya, berdiskusi, dan terlibat dalam setiap kegiatan yang diberikan. Salah
satu siswa mengungkapkan bahwa pembelajaran Fiqih menjadi lebih mudah dipahami
karena disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan tidak membosankan.
Guru
pengampu mata pelajaran Fiqih menyampaikan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk
meningkatkan keterlibatan siswa sekaligus menanamkan pemahaman yang lebih
mendalam. “Biasanya Fiqih itu terasa sulit, tapi sekarang jadi lebih seru
karena ada praktik dan pemanfaatan media digital interaktif. Jadi lebih paham
dan tidak cepat lupa salah satu siswa dengan penuh semangat. Dengan metode yang
variatif, siswa diharapkan tidak hanya mengetahui konsep, tetapi juga mampu
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Selain itu, penggunaan media digital seperti video pembelajaran dan kuis interaktif turut mendukung efektivitas pembelajaran. Hal ini sejalan dengan perkembangan zaman yang menuntut integrasi teknologi dalam dunia pendidikan. Melalui program “Fiqih Goes Fun”, diharapkan pembelajaran Fiqih tidak lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit, melainkan menjadi kegiatan yang dinanti dan menyenangkan. Dengan demikian, nilai-nilai keislaman dapat tertanam kuat dalam diri siswa, tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai pedoman dalam berperilaku sehari-hari.(cio)
Berikan Komentar