Guru Titik Awal KBC: MAN 2 Yogyakarta Adakan Workshop Implementasi Pembelajaran yang Menggerakkan Budaya Madrasah

Foto saat pemaparan materi oleh Hj. Anita Isdarmini, S.Pd., M.Hum.

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – MAN 2 Yogyakarta terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan pembelajaran yang humanis dan berorientasi pada penguatan karakter melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Jum’at (10/07/2026), komitmen tersebut diwujudkan dengan menyelenggarakan Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang diikuti oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat implementasi KBC di seluruh aspek kehidupan madrasah.

Workshop menghadirkan narasumber Hj. Anita Isdarmini, S.Pd., M.Hum., Ketua Tim Kurikulum dan Kesiswaan Kanwil Kemenag DIY, yang menyampaikan bahwa keberhasilan implementasi KBC tidak dimulai dari murid, melainkan dari guru sebagai teladan utama. ”Nilai-nilai cinta harus terlebih dahulu hadir dalam pola pikir, sikap, komunikasi, dan praktik pembelajaran yang dilakukan oleh setiap pendidik. Dengan demikian, budaya madrasah yang penuh kasih sayang, saling menghargai, dan mendukung perkembangan murid akan tumbuh secara alami,” ujarnya.

Dalam paparannya, Hj. Anita menjelaskan bahwa KBC bukan sekadar penyesuaian kurikulum, melainkan transformasi budaya belajar yang menempatkan murid sebagai pribadi yang harus dihargai, dibimbing, dan dikembangkan potensinya. Oleh karena itu, implementasi KBC perlu terintegrasi dalam pembelajaran di kelas, kegiatan penguatan karakter, hingga aktivitas ekstrakurikuler sebagai ruang aktualisasi minat dan bakat. Seluruh program madrasah diharapkan memiliki benang merah berupa penguatan karakter melalui pendekatan yang mengedepankan nilai cinta, kepedulian, dan penghormatan terhadap setiap individu.

Melalui workshop ini, MAN 2 Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta secara menyeluruh, mulai dari intrakurikuler, kokurikuler, hingga ekstrakurikuler. Guru diharapkan menjadi titik awal lahirnya budaya madrasah yang menginspirasi, menggerakkan, dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi setiap murid. Dengan semangat tersebut, MAN 2 Yogyakarta optimistis dapat terus melahirkan generasi yang unggul dalam prestasi, kuat dalam karakter, serta berakhlak mulia sesuai nilai-nilai Islam dan visi pendidikan madrasah.(cio)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp