Ida Puspita, Jadi Editor Sekaligus Penulis Antologi “Simfoni Asa”, Gaungkan Literasi Perempuan dari Yogyakarta

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) -  Kiprah perempuan di lingkungan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta kembali melahirkan karya literasi yang sarat nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Melalui buku antologi cerpen bertajuk “Simfoni Asa: Rangkaian Doa dalam Pelukan Takdir”, terbit Maret 2026, para perempuan dari lingkungan DWP Kanwil Kementerian Agama DIY bersama DWP Kantor Kementerian Agama kabupaten kota se DIY menyatukan pengalaman, harapan, doa, dan keteguhan hati dalam sebuah karya kolaboratif.

Dalam penerbitan buku tersebut, Dra. Ida Puspita, M.Pd.Si. mengambil peran penting sebagai editor sekaligus penulis. Peran ganda ini menempatkannya tidak hanya sebagai salah satu penyumbang gagasan dan karya, tetapi juga sebagai bagian dari proses penyelarasan naskah agar puluhan kisah dengan karakter dan suara yang beragam dapat hadir sebagai satu kesatuan antologi yang utuh.

Antologi “Simfoni Asa: Rangkaian Doa dalam Pelukan Takdir” merupakan buah karya kolaboratif pengurus dan anggota DWP Kanwil Kemenag DIY bersama jajaran DWP Kankemenag Kabupaten Kota dari Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunungkidul, hingga Kota Yogyakarta. Kolaborasi lintas wilayah tersebut menjadi penanda tumbuhnya gerakan literasi perempuan yang berakar pada pengalaman nyata, pengabdian keluarga, kehidupan sosial, serta kekuatan spiritual.

Judul “Simfoni Asa” merepresentasikan keberagaman peran perempuan yang berpadu menjadi harmoni. Layaknya sebuah orkestra, setiap penulis menghadirkan nada unik mulai dari perjuangan dalam karier, pengabdian kepada keluarga dan masyarakat, kasih sayang seorang ibu, hingga kepasrahan doa dalam menghadapi takdir kehidupan.

Ida Puspita memandang kehadiran antologi tersebut sebagai bukti bahwa perempuan memiliki kekuatan besar untuk mengabadikan pengalaman kehidupan melalui tulisan. Menulis bukan semata aktivitas intelektual, melainkan juga ruang refleksi, penguatan diri, serta jalan untuk berbagi inspirasi kepada masyarakat luas.

“Setiap perempuan memiliki kisah, pengalaman, perjuangan, dan harapan yang layak dituliskan. Ketika pengalaman itu dirangkai menjadi karya, ia tidak lagi berhenti sebagai cerita pribadi, tetapi dapat menjelma menjadi energi, pembelajaran, dan inspirasi bagi banyak orang,” demikian semangat yang mengemuka dalam proses kreatif antologi tersebut.

Sebagai editor, Ida turut mengemban tanggung jawab dalam merapikan dan menyelaraskan karya para penulis dengan tetap menjaga kekhasan suara masing masing. Proses editorial menjadi bagian penting karena antologi ini mempertemukan beragam latar pengalaman, gaya bertutur, dan sudut pandang perempuan dalam satu napas besar: merawat asa di tengah dinamika kehidupan.

Kekuatan buku ini terletak pada kisah kisah yang menggambarkan keteguhan para perempuan modern. Pembaca diajak menyelami pengalaman batin tentang kasih sayang ibu, perjuangan keluarga, pengabdian, kehilangan, harapan, dan doa. Dalam narasi yang terjalin, lelah tidak berhenti sebagai beban, tetapi diolah menjadi ketulusan pengabdian sebuah perjalanan untuk “mengubah lelah menjadi lillah”.

“Simfoni Asa” juga hadir sebagai cermin bagi jiwa jiwa yang sedang merajut harapan di tengah keterbatasan. Buku ini membawa pesan bahwa di balik perjalanan menuju keberhasilan terdapat proses panjang, air mata, ketekunan, dan kekuatan doa. Nilai moderasi pun hadir secara alami melalui harmoni antara pengabdian duniawi, kehidupan keluarga, tanggung jawab sosial, dan keteguhan spiritual.

Makna dan posisi strategis antologi ini semakin kuat dengan hadirnya sambutan dari sejumlah tokoh penting di lingkungan Dharma Wanita Persatuan dan Kementerian Agama Republik Indonesia. Mereka adalah Hj. Helmi Nasaruddin Umar, Penasihat DWP Kementerian Agama Republik Indonesia; Hj. Maya Suhasni Siregar, Wakil Penasihat DWP Kementerian Agama Republik Indonesia; Sinarliati Kamaruddin Amin, Ketua DWP Kementerian Agama Republik Indonesia; Dr. H. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum., Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY; serta Dr. Hj. Ening Herniti, M.Hum., Ketua DWP Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY.

Kehadiran sambutan dari para tokoh tersebut memberi arti penting bagi karya kolaboratif ini. Antologi tidak hanya menjadi dokumentasi kreativitas, tetapi juga bagian dari penguatan budaya literasi, pemberdayaan perempuan, serta penyebaran nilai nilai spiritual dan kemanusiaan melalui karya sastra.

Buku ini dibuka dengan semangat kebinekaan melalui salam lintas agama: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, serta salam sejahtera bagi semua. Nuansa tersebut mempertegas pesan inklusivitas dan harmoni yang menjadi salah satu jiwa dari “Simfoni Asa”.

Bagi Ida Puspita keterlibatan sebagai editor sekaligus penulis menjadi bagian dari komitmen untuk terus menghidupkan budaya literasi. Kiprah tersebut menunjukkan bahwa karya tulis dapat menjadi jembatan antara pengalaman personal dan kesadaran kolektif, antara keteguhan perempuan dan perubahan sosial, serta antara doa dan ikhtiar menghadapi tantangan zaman.

Melalui “Simfoni Asa: Rangkaian Doa dalam Pelukan Takdir”, para perempuan DWP Kementerian Agama se DIY menyampaikan pesan kuat kepada masyarakat: bahwa harapan harus terus dirawat, doa harus terus dikuatkan, dan pengalaman hidup harus terus diolah menjadi manfaat.

Antologi ini pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar kumpulan cerpen. Ia hadir sebagai rekam jejak kreatif perempuan, literasi ruhani, ruang perjumpaan berbagai pengalaman kehidupan, sekaligus bukti bahwa dari Yogyakarta, suara perempuan dapat tumbuh menjadi simfoni yang menginspirasi Indonesia.

“Mari terus berkarya, terus berdaya, dan terus menebar manfaat. Karena di balik setiap doa yang terpanjat, ada takdir indah yang sedang Allah SWT siapkan untuk kita dekap,” ujarnya. (pusp)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp