Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Setiap Jumat Wage, suasana pagi di MAN 2 Yogyakarta selalu menghadirkan pemandangan yang meneduhkan. Para guru dan tenaga kependidikan (tendik) berkumpul dengan satu niat yang sama: melakukan reresik, membersihkan dan menata lingkungan madrasah sebagai wujud tanggung jawab dan keteladanan.
Kegiatan reresik Jumat Wage telah menjadi agenda rutin yang mengakar. Bukan sekadar kerja bakti, tetapi kebiasaan kolektif yang dijalani dengan penuh kesadaran. Guru dan tendik menyebar ke berbagai area, ruang kerja, ruang kelas, lorong, taman, hingga area ibadah, membersihkan, merapikan, dan memastikan setiap sudut madrasah layak menjadi ruang belajar yang sehat dan nyaman.
Dalam tradisi Jawa, Jumat Wage kerap dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk menata kembali diri dan lingkungan. Spirit inilah yang dihidupkan di MAN 2 Yogyakarta, membersihkan fisik madrasah sekaligus merawat kebersamaan, ketenangan batin, dan rasa memiliki terhadap lembaga pendidikan.
Bagi guru dan tendik, reresik bukan tugas tambahan, melainkan bagian dari pengabdian. Saat pendidik dan tenaga kependidikan turun langsung memegang alat kebersihan, mereka menyampaikan pesan kuat bahwa keteladanan lahir dari tindakan nyata, bukan semata dari tutur kata. Apa yang dilakukan para guru dan tendik menjadi pelajaran hidup yang diam-diam diserap oleh peserta didik.
Reresik Jumat Wage juga menjadi ruang interaksi yang egaliter. Sekat jabatan melebur dalam kerja bersama. Di sela aktivitas, terjalin komunikasi hangat yang memperkuat ikatan kekeluargaan dan menciptakan suasana kerja yang harmonis di lingkungan madrasah.
Dari sisi lingkungan, dampak kegiatan ini terasa nyata. Madrasah menjadi lebih bersih, rapi, dan asri. Area ibadah terjaga kesuciannya, ruang kerja semakin nyaman, serta lingkungan sekitar madrasah tertata dengan baik. Reresik rutin ini menumbuhkan budaya hidup bersih dan sehat yang berkelanjutan.
Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa reresik Jumat Wage merupakan bagian penting dari pendidikan karakter dan budaya mutu madrasah. “Kegiatan ini adalah bentuk keteladanan nyata. Ketika guru dan tendik terlibat langsung, nilai disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan akan tumbuh kuat dalam kehidupan madrasah,” ungkapnya.
Hartiningsih berharap reresik Jumat Wage terus terjaga dan berkembang menjadi budaya. Lingkungan yang bersih, menurutnya, akan menghadirkan suasana kerja dan belajar yang sehat, nyaman, dan bermakna. Dari kebiasaan sederhana inilah, budaya madrasah yang unggul dan berkelanjutan dapat dibangun bersama. (pusp)
Berikan Komentar