Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Semangat berbenah menuju madrasah berintegritas terus digaungkan oleh jajaran madrasah di Kota Kediri. Puluhan guru dan tenaga kependidikan melakukan kunjungan “ngangsu kawruh” ke MAN 2 Yogyakarta yang telah berhasil meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) tingkat nasional.
Kunjungan
ini disambut langsung oleh Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd.,
didampingi Kepala Tata Usaha sekaligus Ketua Tim ZI, Isti Wahyuni, SE, MM, dan
para Koordinator Sri Narwanti, S.Pd, M.Pd, Fajar Rahmadi, M.Sc, sekretaris Siti
Nur Suciowati S.HI, Kanit Keagamaan Wisang Liyen, SPd, dan staf kehumasan.
Hartiningsih menjadi narasumber utama dalam pemaparan pembangunan Zona
Integritas (ZI).
Rombongan
berjumlah sekitar 50 orang tersebut berasal dari MAN 2 Kota Kediri bersama MTs
se-Kota Kediri. Turut hadir perwakilan dari MAN 1 Kediri sebanyak 5 orang, MTsN
1 Kediri sebanyak 16 orang, serta MTsN 3 Kediri sebanyak 3 orang. Kegiatan ini
sekaligus mewakili Kementerian Agama Kota Kediri dalam upaya peningkatan mutu
layanan berbasis integritas.
Kunjungan
ini bertujuan menggali praktik terbaik pembangunan Zona Integritas, khususnya
dalam enam area perubahan, meliputi manajemen perubahan, penataan tata laksana,
penataan sistem manajemen SDM, penguatan akuntabilitas, penguatan pengawasan,
serta peningkatan kualitas pelayanan publik.
Dalam
pemaparannya, Hartiningsih menegaskan bahwa pembangunan ZI merupakan proses
panjang yang tidak bisa instan. “Pembangunan itu berproses dan tidak akan
berhasil jika tidak melibatkan semua pihak. Kunci utamanya adalah teamwork,”
ungkapnya.
Ia
juga menekankan bahwa komitmen menjadi fondasi utama dalam membangun ZI. “Mulai
dari kepala hingga tenaga kebersihan harus memiliki komitmen yang sama. Jika
pimpinan mendukung, sistem akan terbentuk, dan madrasah akan lebih mudah
dikelola,” tambahnya.
Lebih
lanjut, ia kembali menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan ZI sangat
bergantung pada kesamaan visi seluruh warga madrasah. “Ketika visi sudah sama,
mindset dan culture set akan mengikuti. Dari situlah enam area perubahan dapat
berjalan dengan baik,” jelas Hartiningsih.
Ia
juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya memulai pembangunan,
tetapi menjaga konsistensi (istiqamah). Standarisasi yang telah dicanangkan
harus diturunkan secara nyata ke dalam enam area perubahan agar implementasinya
berjalan optimal dan berkelanjutan.
Berbagai
strategi implementasi turut dibagikan, mulai dari penguatan budaya kerja
melalui rapat dinas yang masif, sosialisasi berkelanjutan, penandatanganan
pakta integritas, hingga pelibatan peserta didik dalam internalisasi nilai
integritas. Selain itu, pemanfaatan media sosial dan publikasi berita menjadi
bagian penting sebagai bentuk transparansi sekaligus pertanggungjawaban program
ZI dan masih banyak hal lain yang dibagikan.
Dua
kali Hartiningsih selaku pimpinan di satkernya mengantarkan meraih predikat
WBK. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi dalam membangun sistem yang kuat. Hartiningsih
juga menambahkan bahwa kepemimpinan yang konsisten akan mempermudah
terbentuknya budaya kerja yang solid.
Plt.
Kepala MAN 2 Kota Kediri, Drs. Muh. Nizar, M.Pd menyampaikan harapannya agar
kegiatan ini menjadi titik awal lahirnya madrasah berpredikat WBK di Kota
Kediri. Ia optimistis, dengan komitmen dan kolaborasi yang kuat, madrasah di
Kediri mampu mengikuti jejak keberhasilan MAN 2 Yogyakarta yang telah meraih predikat WBK tingkat nasional.
Kegiatan
ini juga menjadi ajang silaturahmi sekaligus penandatanganan kerja sama (MoU)
antar madrasah sebagai bentuk sinergi dalam meningkatkan mutu pendidikan dan
tata kelola kelembagaan.
“InsyaAllah,
dengan semangat belajar dan kolaborasi ini, madrasah di Kediri siap menyusul
meraih predikat WBK tingkat nasional,” pungkasnya penuh optimisme. (pusp)
Berikan Komentar