Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) - Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta kembali menjadi ruang bertemunya buku, cerita, dan refleksi. Kali ini, Khumaira Nafla Miftahhusna, siswi kelas XIIE, berbagi pengalaman membaca buku Tanpa Rencana karya Dee Lestari melalui kegiatan literasi baca balik pada Kamis (27/08/2026) pukul 15.30 WIB.
Kegiatan
berlangsung di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta bersama Pustakawan Nuryanti A. Md
serta mahasiswa PK (Praktek Kependidikan) UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) Indah Lestiyaningsih
jurusan Pendidikan Ekonomi.
Dalam
ulasannya, Khumaira menceritakan bahwa Tanpa Rencana merupakan kumpulan cerita
pendek dengan beragam kisah dan makna. Salah satu cerita yang paling berkesan
baginya adalah kisah “Garam Asam” yang mengangkat cerita tentang sebuah mata
air di pegunungan Papua.
Menurut
Khumaira, mata air tersebut memiliki kandungan garam sehingga airnya terasa
asin. Hal yang membuat kisah itu semakin menarik adalah kepercayaan bahwa siapa
pun yang mengambil air dari mata air tersebut akan mengalami kesedihan hingga
meneteskan air mata.
“Cerita
ini membuat saya berpikir bahwa setiap kesedihan pasti ada pelajaran yang bisa
diambil,” ungkap Khumaira.
Pesan
tersebut menjadi bagian yang paling membekas bagi Khumaira setelah membaca buku
karya Dee Lestari tersebut. Baginya, kesedihan tidak selalu harus dipandang
sebagai sesuatu yang buruk, tetapi dapat menjadi pengalaman yang mengajarkan
seseorang untuk memahami kehidupan dengan lebih baik.
Pustakawan
MAN 2 Yogyakarta, Nuryanti A. Md., menyambut ulasan Khumaira dengan antusias.
Menurutnya, kemampuan siswa menemukan makna dari sebuah cerita menunjukkan
bahwa kegiatan membaca tidak berhenti pada memahami isi buku.
“Saya
senang ketika siswa tidak hanya menceritakan kembali isi buku, tetapi juga
mampu menemukan pesan yang dekat dengan kehidupan. Dari cerita tentang
kesedihan, Khumaira justru menemukan pelajaran tentang bagaimana kita memaknai
sebuah pengalaman,” ujar Nuryanti.
Sementara
itu, Indah menilai cerita yang disampaikan Khumaira menarik karena
memperlihatkan bahwa sebuah cerita sederhana dapat menghadirkan sudut pandang
yang mendalam.
“Yang
menarik adalah bagaimana sebuah kisah bisa membuat pembaca berpikir lebih jauh.
Kesedihan yang biasanya dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari ternyata
bisa menjadi proses untuk belajar dan memahami diri,” kata Indah
Indah turut mengapresiasi keberanian Khumaira dalam menyampaikan hasil bacaannya. Menurutnya, kegiatan seperti ini dapat melatih siswa untuk berbicara, menyampaikan pendapat, sekaligus menghubungkan isi buku dengan pengalaman kehidupan.
Kegiatan
literasi baca balik di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta terus dikembangkan sebagai
ruang bagi siswa untuk berbagi cerita dari buku yang telah mereka baca. Melalui
kegiatan tersebut, setiap buku tidak sekadar dikembalikan ke rak, tetapi
terlebih dahulu diberi kesempatan untuk “berbicara” melalui pengalaman,
pendapat, dan pesan yang ditemukan oleh pembacanya.
Di
MAN 2 Yogyakarta, literasi terus dihidupkan melalui kebiasaan membaca,
bercerita, merefleksikan isi bacaan, dan membagikan kembali makna yang diperoleh.
Sebab, sebuah buku mungkin memiliki banyak cerita, tetapi maknanya dapat
menjadi berbeda ketika sampai di hati setiap pembacanya. (nur)
Berikan Komentar