Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – MAN 2 Yogyakarta terus memperkuat budaya
disiplin melalui pembinaan murid yang datang terlambat dengan pendekatan
disiplin positif dan ramah anak. Rabu (15/07/2026), program ini dilaksanakan
setiap pagi di gerbang madrasah sebagai bagian dari upaya membangun karakter
disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran diri tanpa mengedepankan hukuman.
Melalui pendekatan yang humanis, madrasah ingin memastikan bahwa setiap murid merasa
dihargai sekaligus terdorong untuk memperbaiki kebiasaan datang tepat waktu.
Setiap murid yang datang melewati batas waktu kehadiran pukul 07.00 WIB
tidak langsung diberikan sanksi, melainkan diajak berdialog oleh guru piket,
guru bimbingan dan konseling, serta tim kesiswaan. Percakapan dilakukan untuk
mengetahui penyebab keterlambatan, memberikan penguatan tentang pentingnya
manajemen waktu, serta mencari solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing
peserta didik. Pendekatan ini menjadi sarana pembinaan yang menumbuhkan
kesadaran intrinsik sehingga perubahan perilaku lahir dari pemahaman, bukan
karena rasa takut.
Selain dialog, murid juga diarahkan mengikuti kegiatan pembiasaan yang
bersifat edukatif, seperti refleksi singkat, membaca doa, mengulang komitmen
sebagai pelajar madrasah, atau mendeskripsikan wawasan kebangsaan sesuai
kebutuhan pembinaan. Kegiatan tersebut dirancang untuk menanamkan rasa tanggung
jawab sekaligus membangun kebiasaan positif sebelum mengikuti proses
pembelajaran di kelas. Dengan demikian, setiap keterlambatan menjadi momentum
belajar yang bermakna, bukan sekadar pelanggaran yang harus dihukum.
Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., Kepala MAN 2 Yogyakarta menegaskan bahwa
disiplin merupakan salah satu fondasi penting dalam pembentukan karakter
peserta didik. Namun, disiplin yang diterapkan di madrasah harus tetap
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai hak anak, dan memberikan
ruang bagi murid untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, pembinaan dilakukan
melalui komunikasi yang santun, penuh empati, dan berorientasi pada pembentukan
karakter jangka panjang.
Guru Bimbingan dan Konseling bersama tim kesiswaan juga terus melakukan
pemantauan terhadap murid yang beberapa kali mengalami keterlambatan.
Pendampingan dilakukan melalui komunikasi dengan peserta didik, wali kelas,
serta orang tua apabila diperlukan agar solusi yang dihasilkan lebih
menyeluruh. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari komitmen madrasah dalam
menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung
perkembangan setiap peserta didik.
Budaya disiplin positif yang diterapkan MAN 2 Yogyakarta sejalan dengan
visi madrasah untuk melahirkan generasi yang unggul dalam prestasi, kuat dalam
karakter, dan berakhlak mulia. Melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan
setiap pagi, madrasah berharap murid semakin terbiasa menghargai waktu,
bertanggung jawab atas pilihan yang diambil, serta mampu membangun kedisiplinan
sebagai kebutuhan diri, bukan sekadar kewajiban. Langkah kecil di gerbang
madrasah pun diharapkan memberikan dampak besar bagi tumbuhnya karakter positif
yang akan menjadi bekal murid dalam kehidupan bermasyarakat.(cio)
Berikan Komentar