Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Madrasah Aliyah Negeri 2 Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai madrasah unggul berbasis riset dan inovasi di tingkat nasional. Dalam ajang Insight National Essay Competition 2026 yang diselenggarakan oleh FORCEMY, murid MAN 2 Yogyakarta berhasil meraih medali perak sekaligus membuktikan kualitas karya ilmiah yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.
Prestasi tersebut diraih oleh tim Zalfinisa Firzanah dan Alfie Hidayatullah dengan perolehan nilai 196, menempatkan MAN 2 Yogyakarta di posisi papan atas nasional. Capaian ini hanya terpaut tipis dari peraih medali emas dan menunjukkan kekuatan riset pelajar madrasah dalam menghadirkan solusi inovatif berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.
Karya
yang diusung berupa inovasi parfum antifungal berbasis bahan alami, yang
memanfaatkan minyak atsiri lavender (Lavandula angustifolia), lemon (Citrus
limon), serta ekstrak biji anggur (Vitis vinifera). Produk ini dirancang untuk
mengatasi permasalahan jamur pada pakaian, khususnya Aspergillus sp., yang
kerap muncul akibat kondisi lembap.
Melalui
riset eksperimental, inovasi ini terbukti mampu menghambat pertumbuhan jamur
dengan daya hambat hingga 15 mm. Tidak hanya berfungsi sebagai pewangi, produk
ini juga memberikan perlindungan tekstil, memperpanjang usia pakai pakaian,
serta berkontribusi dalam menekan limbah tekstil, sebuah isu lingkungan yang
semakin mendesak.
Keberhasilan
ini mencerminkan tipologi riset khas MAN 2 Yogyakarta yang kuat, terstruktur,
dan berorientasi pada solusi nyata. Madrasah ini mengembangkan ekosistem riset
melalui pembinaan berjenjang, penguatan literasi ilmiah, praktik eksperimen,
hingga publikasi karya. Riset tidak hanya diarahkan untuk kompetisi, tetapi
juga untuk menjawab persoalan riil di masyarakat dengan pendekatan ilmiah yang
aplikatif dan berkelanjutan.
Peran
guru pembimbing menjadi faktor kunci dalam keberhasilan ini. Nuning
Setianingsih, S.Si., M.Pd dan Salwa Hafidzah, S.Si secara intensif mendampingi
proses riset, memastikan kualitas metodologi, sekaligus menanamkan karakter
ilmiah pada peserta didik. Dukungan kelembagaan juga diperkuat melalui
kepemimpinan Kepala Madrasah, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd, yang konsisten
mendorong budaya riset sebagai identitas madrasah.
“Prestasi
ini bukan sekadar kemenangan, tetapi cerminan dari proses panjang dalam
membangun budaya ilmiah di madrasah. Kami ingin peserta didik tidak hanya
unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi
masyarakat. Harapan kami, MAN 2 Yogyakarta terus menjadi pusat lahirnya
inovator muda yang berkontribusi untuk bangsa,” ungkap Hartiningsih.
Adapun
hasil kompetisi menunjukkan ketatnya persaingan nasional. Posisi medali emas
diraih SMA Islam Terpadu Assyifa dengan nilai 198 melalui inovasi pengolahan
limbah berbasis Cyperus papyrus. Sementara itu, posisi berikutnya diisi oleh
MAN 2 Yogyakarta (nilai 196, medali perak), disusul SMA Negeri 1 Kedungpring
(nilai 195), MAN 2 Kota Malang (nilai 193), dan SMA Negeri Denpasar (nilai
191).
Seluruh
karya dikumpulkan secara daring pada 15 April 2026, menandai kesiapan siswa
dalam menghadapi ekosistem kompetisi digital sekaligus memperluas jangkauan
kontribusi ilmiah generasi muda Indonesia.
Tak
kalah membanggakan, tim Lintang Masayu dan Zafeera Zatal Mazaya turut
menorehkan prestasi dengan menembus 10 besar nasional melalui inovasi
gamifikasi berbasis model S.I.A.P dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Pendekatan ini menghadirkan sistem poin, level, dan penghargaan untuk mendorong
pelajar mengonsumsi makanan sehat sekaligus menekan food waste, sehingga
mendukung gerakan zero waste di lingkungan sekolah.
Lebih
dari sekadar prestasi, capaian ini menjadi bukti bahwa MAN 2 Yogyakarta mampu
membangun branding sebagai madrasah riset yang unggul, adaptif, dan berdampak.
Dari Yogyakarta, lahir inovasi yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga
memberi harapan bagi masa depan yang lebih sehat, berkelanjutan, dan berdaya.
(pusp)
Berikan Komentar