Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Kegiatan Studi Akademik dan Riset Lingkungan (STARLing) yang dilaksanakan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Yogyakarta pada Rabu (04/02/2026), memberikan perhatian khusus pada kajian sejarah dan kebudayaan Islam Jawa di Masjid Gedhe Kauman. Kunjungan ini menjadi bagian penting dari implementasi pembelajaran kontekstual berbasis budaya dan sejarah lokal.
Kajian
di Masjid Gedhe Kauman dipandu langsung oleh guru pendamping Indra Ristanta,
S.Hum., yang mengarahkan murid untuk memahami masjid tidak hanya sebagai tempat
ibadah, tetapi juga sebagai pusat peradaban, pendidikan, dan pembentukan
karakter masyarakat Yogyakarta. Dalam pemaparannya, Indra menjelaskan bahwa
Masjid Gedhe Kauman memiliki keterkaitan erat dengan berdirinya Keraton
Yogyakarta dan menjadi simbol kuat akulturasi nilai-nilai Islam dan tradisi
Jawa.
Melalui
pengamatan langsung terhadap arsitektur masjid, murid mempelajari filosofi
bangunan yang sarat makna, mulai dari struktur atap tajug bertumpang, tata
ruang serambi, hingga elemen-elemen simbolik yang mencerminkan ajaran Islam
yang membumi dalam budaya Jawa. Masjid Gedhe Kauman juga dipahami sebagai pusat
kegiatan sosial dan pendidikan keagamaan yang berperan besar dalam membentuk
masyarakat Kauman sebagai komunitas religius dan berbudaya.
Pendampingan
lapangan diarahkan secara dialogis dan reflektif. Murid diajak mendiskusikan
peran masjid dalam sejarah sosial Yogyakarta, termasuk kontribusinya dalam
pengembangan pendidikan Islam, dakwah kultural, serta pembentukan nilai
moderasi dan toleransi beragama. Diskusi ini mendorong murid untuk mengaitkan
nilai-nilai sejarah dengan tantangan kehidupan masyarakat masa kini.
Para
murid mengaku memperoleh pengalaman belajar yang mendalam melalui kajian di
Masjid Gedhe Kauman. Salah seorang murid menyampaikan bahwa kunjungan ini
membuka pemahaman baru tentang bagaimana agama dan budaya dapat berjalan
selaras. “Kami belajar bahwa Masjid Gedhe Kauman bukan hanya bangunan
bersejarah, tetapi pusat nilai yang membentuk karakter masyarakat Yogyakarta
sejak lama,” tuturnya.
Kepala
MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, menyampaikan harapannya agar kegiatan STARLing
di Masjid Gedhe Kauman mampu menumbuhkan kesadaran spiritual sekaligus
kecintaan murid terhadap warisan budaya Islam Nusantara. Menurutnya,
pembelajaran sejarah dan budaya yang dilakukan langsung di situs bersejarah
akan memperkuat pemahaman murid tentang jati diri bangsa serta nilai-nilai
keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.
Dari
sisi pelaksanaan, kegiatan STARLing berada di bawah koordinasi Nur Suciowati ,S.HI.,
sebagai penanggung jawab kegiatan. Lembar instrumen kegiatan (LJK) disiapkan
oleh Nurul Zulaikha bersama Indra Ristanta, S.Hum untuk memandu murid melakukan
observasi dan refleksi lapangan. Kegiatan ini juga didampingi guru Srimarlina,
M.A dan Firda Nandara, S.Pd.
Dengan
pendampingan guru dan pendekatan pembelajaran lapangan, STARLing MAN 2
Yogyakarta di Masjid Gedhe Kauman diharapkan menjadi sarana efektif dalam
mengintegrasikan nilai religius, budaya, dan akademik. Kegiatan ini menegaskan
komitmen madrasah untuk menjadikan situs-situs bersejarah sebagai ruang belajar
hidup dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, berpengetahuan, dan
berakar kuat pada nilai-nilai budaya bangsa. (pusp)
Berikan Komentar