Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Upacara bendera Senin pagi (12/01/2026) di halaman utama depan Gedung Perpustakaan dan Laboratorium IPA MAN 2 Yogyakarta menjadi momentum refleksi bersama bagi seluruh peserta didik. Bertindak sebagai pembina upacara, Guru Bahasa Jepang Diah Wijiastuti, S.S., menyampaikan amanat inspiratif tentang ikhlas sebagai kunci menata diri di awal semester genap.
Dalam pesannya, Diah mengajak peserta didik untuk meneguhkan niat dan memantapkan langkah memasuki semester kedua. Ikhlas, menurutnya, bukan sekadar kata bijak, melainkan sikap batin untuk bersiap, berserah, dan berharap hanya kepada Allah agar dibukakan jalan-jalan kebaikan yang lebih luas.
“Ketika kita ikhlas, hal-hal kecil pun terasa ringan. Urusan dipermudah, diterima oleh teman-teman, disayangi guru, dan ilmu yang dipelajari menjadi lebih bermanfaat,” tuturnya di hadapan peserta upacara.
Ia menegaskan bahwa MAN 2 Yogyakarta adalah madrasah dengan ragam pilihan pengembangan diri layaknya “swalayan prestasi”. Peserta didik memiliki ruang luas untuk bertumbuh melalui penguasaan bahasa asing, riset, seni budaya, hingga berbagai kompetensi lainnya. Namun semua potensi itu, lanjutnya, hanya akan tumbuh optimal jika dilandasi keikhlasan.
Tanpa ikhlas, ia mengingatkan, setiap langkah akan terasa berat dan penuh rintangan. Sebaliknya, dengan ikhlas, tantangan berubah menjadi proses pendewasaan yang menguatkan karakter.
Pada kesempatan tersebut, Diah juga mengajak seluruh peserta didik untuk membuka lembaran baru dan bergandeng tangan sebagai satu keluarga besar MandaYa. Ia mendorong siswa untuk meninggalkan kebiasaan, pergaulan, dan sikap yang tidak mendukung cita-cita, serta fokus menata masa depan dengan niat yang lurus.
“Bismillah, ikhlas menjadi pelajar MAN 2 Yogyakarta. Pesan ini sederhana, cerna perlahan, simpan di hati, dan jadikan pegangan dalam belajar dan berproses,” pesannya menutup amanat.
Amanat tersebut menjadi penguat bahwa pendidikan di MAN 2 Yogyakarta tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter. Ikhlas diposisikan sebagai fondasi agar peserta didik tumbuh menjadi pribadi tangguh, berprestasi, dan siap menjemput masa depan dengan hati yang lapang. (pusp)
Berikan Komentar