MODIFIKASI METODE QIRAAH TARJAMAH DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) -"Metode Qira’ah wa Tarjamah atau yang dikenal dengan metode klasik Grammar-Translation Method memiliki sejarah panjang dalam pengajaran Bahasa Arab. Namun, dalam konteks komunikasi modern, metode ini sering dianggap kurang efektif karena beberapa alasan mendasar, di antaranya karena metode ini sangat menitikberatkan pada keterampilan pasif (membaca dan memahami teks). Akibatnya, aspek produksi bahasa seperti berbicara (kalam) dan mendengar (istima') sering kali terabaikan. Murid mungkin mahir membedah kitab gundul, namun terbata-bata saat harus memesan makanan di kafe atau bercakap-cakap dengan penutur asli.

Selain itu, karena setiap kata diterjemahkan ke dalam bahasa ibu, otak murid terbiasa melakukan proses "penerjemahan ganda". Mereka berpikir dalam Bahasa Indonesia, menerjemahkannya secara mental, baru kemudian mengucapkannya dalam Bahasa Arab. Hal ini menghambat terbentuknya Malakah (insting bahasa) atau kemampuan berpikir langsung dalam bahasa target.

Kemudian karena penerapan metode ini sering terjebak dalam penghafalan rumus nahwu (sintaksis) dan sharf (morfologi) secara terpisah dari konteks penggunaan, mengakibatkan pembelajaran menjadi membosankan karena lebih mirip belajar rumus daripada belajar alat komunikasi. 

Namun tidak demikian adanya dalam pembelajaran Bahasa Arab di kelas X H MAN 2 Yogyakarta. Dengan beberapa modifikasi, Siti Imroatus Sholichah, guru Bahasa Arab MAN 2 Yogyakarta mengusahakan metode Qiraah Tarjamah bisa diterapkan untuk menghasilkan keterampilan berbahasa yang diinginkan.

Aplikasinya dalam pembelajaran di kelas pada Jum’at, 13 Februari 2026 dengan cara guru menayangkan slide berisi teks berbahasa Arab, murid membaca dan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia bersama-sama. Setelah itu, murid diminta mencatat terjemah dalam bahasa Indonesia. Kemudian ditayangkan teks terjemah, murid membacanya kembali, namun dengan pelafalan bahasa Arab. Setelah beberapa kali pelafalan dilakukan penilaian dengan cara murid diminta membaca tulisannya masing-masing (tertulis dalam bahasa Indonesia) dengan pelafalan berbahasa Arab. 

Dalam prosesnya, penerjemahan dengan teori gramatikal sama sekali dihindari, kecuali dengan bentuk interaksi langsung atau tanya jawab tentang beberapa kata yang merupakan esensi materi. Guru pun menghindari mendiktekan arti tiap kata kepada murid, melainkan meminta murid bersama-sama menerjemahkan. Ketika ditemukan kata yang belum bisa diterjemahkan oleh murid, guru memberi stimulus dengan menyebutkan sinonim, antonim, atau penggunaannya dalam kalimat lain. Kemudian dalam proses membaca tulisan Indonesia dalam bahasa Arab, guru mentoleransi kesalahan gramatikal dan penggunaan diksi berbeda dari teks asal. Dengan demikian,  keterampilan mengungkapkan ide langsung dalam bahasa target pun dapat terpenuhi.

"Metode ini sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan murid dalam memahami dan menguasai bahasa Arab," kata Imroah. "Dengan membaca teks berbahasa Arab dan menerjemahkannya, murid dapat memahami struktur kalimat dan kosakata bahasa Arab. Kemudian, dengan membaca teks terjemah dengan pengucapan berbahasa Arab, murid dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan pengucapan mereka."

Murid kelas XH MAN 2 Yogyakarta menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran bahasa Arab dengan metode ini. "Saya sangat suka dengan metode ini karena saya dapat memahami bahasa Arab dengan lebih baik," kata Ashfiya, salah satu murid. (Imroatus Solikhah)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp