Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta — Suasana berbeda tampak di ruang kelas XII C MAN 2 Yogyakarta pada Selasa (21/04/2026). Sebanyak 25 murid yang mengikuti program Penguatan Keterampilan Akademik (PKA) Soshum bidang studi geografi tidak sekadar menerima materi, tetapi terlibat langsung dalam praktik analisis data kependudukan yang kontekstual dan aplikatif.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman murid terhadap konsep-konsep dasar kependudukan, seperti sensus, registrasi, dan survei penduduk. Namun, yang membedakan pertemuan kali ini adalah pendekatan pembelajaran yang lebih aktif. Murid diajak berdiskusi, bertanya, sekaligus mempraktikkan perhitungan indikator penting dalam demografi, yakni sex ratio dan dependency ratio.
Dalam proses pembelajaran, murid tidak hanya memahami definisi, tetapi juga mengolah data sederhana dari suatu wilayah di Indonesia. Mereka menghitung perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan, serta menganalisis angka ketergantungan berdasarkan kelompok usia. Aktivitas ini mendorong murid berpikir kritis sekaligus memahami bagaimana data kependudukan berperan dalam perencanaan pembangunan.
Menurut pengampu kegiatan, Heri Jatmiko, S.Pd., metode praktik langsung memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna. “Materi ini sangat penting karena anak-anak langsung bisa praktik menghitung perbandingan jenis kelamin dan angka ketergantungan wilayahnya masing-masing,” ujarnya.
Latar belakang kegiatan ini berangkat dari kebutuhan untuk mengubah pola pembelajaran yang sebelumnya cenderung teoritis menjadi lebih kontekstual. Dengan praktik langsung, murid tidak hanya menghafal konsep, tetapi mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Hal ini sejalan dengan upaya madrasah dalam membekali murid dengan keterampilan abad 21, khususnya dalam literasi data.
Menariknya, materi yang dipelajari memiliki relevansi jangka panjang. Perhitungan sex ratio dan dependency ratio dapat digunakan kapan saja dan di berbagai wilayah sesuai kebutuhan. Artinya, keterampilan ini tidak lekang oleh waktu dan menjadi bekal penting bagi murid dalam memahami dinamika sosial di masa depan.
Melalui kegiatan ini, MAN 2 Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang inspiratif, aplikatif, dan berdampak. Dari ruang kelas sederhana, lahir pemahaman besar tentang bagaimana data dapat menjadi kunci membaca realitas masyarakat. (Heri Jatmiko)
Berikan Komentar