Problem Based Learning Tajamkan Nalar Kritis Siswa MAN 2 Yogyakarta dalam Kajian Hadis

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta)  — Upaya menumbuhkan kemampuan berpikir kritis di kalangan peserta didik terus dilakukan MAN 2 Yogyakarta. Pada Selasa (31/03/2026), Drs. Soir, M.S.I menghadirkan pembelajaran inovatif di kelas X.F (Kelas Khusus Olah Raga), melalui penerapan metode Problem Based Learning (PBL) dalam kajian unsur-unsur hadis pada mata pelajaran Qur'an Hadits.

Dalam pembelajaran tersebut, siswa diajak tidak sekadar memahami materi secara tekstual, tetapi juga menelaah secara mendalam struktur hadis yang meliputi sanad, matan, dan rawi. Pendekatan ini dirancang untuk melatih nalar kritis siswa dalam menganalisis validitas suatu hadis sebelum mengamalkannya.

Drs. Soir, M.S.I menjelaskan bahwa nalar kritis merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki peserta didik di era digital. “Berpikir kritis bukan hanya menerima informasi, tetapi mampu menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis secara logis. Ini menjadi bekal penting di tengah derasnya arus informasi, termasuk potensi hoaks,” ujarnya.

Ia menambahkan, kajian unsur-unsur hadis menjadi media yang sangat relevan untuk melatih kemampuan tersebut. Melalui pemahaman sanad (rantai periwayatan), matan (isi hadis), dan rawi (perawi hadis), siswa diajak untuk mempertanyakan sumber informasi secara ilmiah dan bertanggung jawab.

“Ketika siswa menerima sebuah hadis, mereka tidak langsung mempraktikkannya begitu saja, tetapi terlebih dahulu mengkaji kredibilitas perawinya serta keabsahan isi hadis tersebut. Ini adalah bentuk latihan berpikir kritis yang kontekstual,” jelasnya.

Suasana pembelajaran berlangsung aktif dan partisipatif. Siswa terlibat dalam diskusi, analisis kasus, hingga pemecahan masalah berbasis contoh hadis yang beragam. Metode PBL mendorong siswa untuk berani bertanya, berargumentasi, serta menyampaikan pendapat secara rasional.

Pembelajaran ini sejalan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21 yang menekankan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan memilah kebenaran menjadi kompetensi yang sangat krusial.

Melalui inovasi pembelajaran ini, MAN 2 Yogyakarta menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga cerdas, kritis, dan bijak dalam menyikapi informasi. Kajian hadis tidak lagi sekadar hafalan, melainkan menjadi sarana membangun cara berpikir yang analitis dan bertanggung jawab. (Soir)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp