Selasar Ruang Referensi: Di Mana "Uzur" Menjelma Menjadi Cahaya Ilmu

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – Riuh rendah suara langkah kaki menuju masjid untuk menunaikan Salat Jumat sering kali meninggalkan sunyi di sudut-sudut kelas. Namun, di MAN 2 Yogyakarta, kesunyian itu tidak dibiarkan kosong tanpa makna. Pada Jumat (27/02), sekelompok peserta didik yang sedang berhalangan ibadah (uzur syar'i) membuktikan bahwa kedekatan dengan Sang Pencipta tidak melulu soal hamparan sajadah, melainkan juga tentang haus akan ilmu yang tak kunjung padam.

Bertempat di Ruang Referensi Perpustakaan yang tenang, para murid ini berkumpul dalam lingkaran hangat bertajuk Kajian Keputrian. Di tengah aroma buku yang khas, mereka tidak sekadar menunggu waktu usai, melainkan sedang merajut spiritualitas agar tetap terjaga meski raga tengah terbatas dalam ritual ibadah harian.

Menjelang bulan suci, tema yang diangkat sangatlah membumi: "Adab-Adab Berpuasa". Dalam diskusi yang mengalir intim, ditekankan bahwa puasa bukan hanya tentang memindahkan jam makan, melainkan sebuah seni menjaga lisan dan kebersihan hati. Para peserta didik diajak menyelami kembali sunnah-sunnah kecil yang sering terlupa—mulai dari keberkahan dalam butiran sahur, indahnya menyegerakan berbuka dengan kurma, hingga pentingnya menjadi lebih dermawan dan akrab dengan Al-Qur'an.

"Meskipun sedang berhalangan salat, bukan berarti berhenti menuntut ilmu. Kajian ini adalah asupan rohani agar hati tetap hidup," ungkap salah satu pengurus OSIS bidang keagamaan dengan nada penuh semangat.

Suasana perpustakaan yang kondusif mengubah sesi belajar ini menjadi dialog dua arah yang hidup. Para murid tampak antusias membedah tantangan menjaga adab puasa di tengah hiruk-pikuk lingkungan sekolah. Mereka belajar bahwa menahan diri dari dusta dan ucapan sia-sia adalah esensi puasa yang sesungguhnya, yang sering kali lebih berat daripada sekadar menahan haus di bawah terik matahari Yogyakarta.

Melalui konsistensi kegiatan ini, MAN 2 Yogyakarta sedang menanam benih karakter yang kuat. Harapannya sederhana namun mendalam: melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual di ruang kelas, tetapi juga memiliki keanggunan budi pekerti dan kedalaman spiritual yang mumpuni.

Sore itu, dari balik rak-rak buku, sebuah pesan tersampaikan dengan jelas: bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk bertumbuh, dan setiap keterbatasan, termasuk masa "uzur", adalah ruang untuk menjemput pahala dengan cara yang berbeda.

( Alfi Rahmi )

 


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp