Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) - Peningkatan Hafalan Al Quran (PahalaQu) di MAN 2 Yogyakarta menjadi program unggulan sekaligus program mandatory yang memastikan murid dapat mendapatkan fasilitas layanan yang dibutuhkan. Sebagian murid madrasah ini memiliki riwayat hafalan Al Quran sebagian yang memiliki minat yang besar untuk menghafal. Pelaksanaan program ini direalisasikan dengan jadwal setoran hafalan intensif pagi jadi jam ke 0. Beberapa guru yang kompeten memfasilitasi penerimaan soran dengan cara kreatif. Biasanya menempati ruang rapat, ruang referensi, perpustakaan, ruang belajar. Kali ini seorang ustadz pendamping menggunakan area parkir dan kantin sehat madrasah setempat sebagai “ruang belajar Al-Qur’an alternative”. Murid melakukan murojaah atau setoran hafalan dalam suasana informal, misalnya saat menunggu kendaraan, sebelum makan, setelah makan, atau ketika memiliki waktu luang. Dalam hal ini peserta yang dibimbing Ustadz Puguh Mahardika dalam program PahalaQu Selasa, (18/8/2026) menggunakan kursi kantin untuk duduk dengan posisi melingkar.
Hal yang menarik dari “ruang belajar Al-Qur’an alternative” adalah Al-Qur’an hadir dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya di kelas, Hafalan terasa lebih natural dan tidak menegangkan, murid belajar bertanggung jawab terhadap hafalan sekaligus lingkungan, kantin dan parkir tidak hanya menjadi tempat transit, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pendidikan dan terbangun budaya saling menyimak, mengingatkan, menjaga kebersihan, dan menghormati sesama. Pesan yang dibangun dalam situasi ini adalah “Sehat makanannya, bersih tempatnya, kuat hafalannya”. Dengan demikian, pendidikan agama sekaligus dikaitkan dengan adab makan, kebersihan,
PahalaQu yang diselenggarakan di area kantin dan parkir madrasah menjadikan kegiatan ini menarik bukan sekadar memindahkan setoran hafalan ke kantin atau parkir. Yang luar biasa adalah mengintegrasikan tiga pendidikan sekaligus yakni Al-Qur’an, karakter dan lingkungan. Sebagai contoh murid datang ke madrasah, memarkir kendaraan dengan tertib, menjaga kebersihan dan menunggu di area yang tertata bersih dan nyaman, melakukan murojaah, menyetorkan hafalan, memastikan area kantin bersih dan rapi dan kembali belajar. Dengan demikian, pendidikan Al-Qur’an tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari budaya hidup peserta didik.
Agar konsep ini tetap menghormati kesakralan Al-Qur’an, area kantin dan parkir tentu diatur dengan baik. Setoran hafalan tetap, dikondisikan di zona yang bersih, relatif tenang, tidak mengganggu lalu lintas kendaraan, dan tetap memperhatikan adab terhadap Al-Qur’an. Area kantin yang dipakai adalah area saat tidak digunakan/hening atau lokasi parkir yang dipakai adalah area yang memang tidak difungsikan untuk parkir. (sol)