SIMPAN GAWAI, TUMBUHKAN KARAKTER-GERAKAN PERUBAHAN MAN 2 YOGYAKARTA

Gerakan madrasah minimalkan penggunaan gawai, kuatkan rasa tanggungjawab dalam diri murid.

YOGYAKARTA (MAN 2 Yogyakarta) - Gerakan pengumpulan gawai selama kegiatan pembelajaran di madrasah kembali dikuatkan di MAN 2 Yogyakarta. Senin, (12/10/2026) langkah ini bukan sekadar membatasi penggunaan telepon genggam, melainkan upaya mendidik murid agar mampu mengendalikan diri, mengelola waktu, dan membangun kebiasaan yang mendukung pembentukan karakter.Gerakan ini sejalan dengan visi MAN 2 Yogyakarta: Taqwa, Mandiri, Prestasi, Inovatif, Berwawasan Lingkungan, dan Berintegritas. Sebelumnya, pembatasan penggunaan gawai telah diterapkan di madrasah. Namun, seiring berkembangnya pembelajaran digital, penggunaan telepon genggam sebagai alat bantu kegiatan belajar mengajar (KBM) semakin terbuka. Dalam perkembangannya, penggunaan gawai berpotensi bergeser dari sarana belajar menjadi sumber distraksi. Waktu jeda yang semestinya dapat dimanfaatkan untuk membaca, berdiskusi, beristirahat, atau bercengkerama dengan teman, terkadang justru diisi dengan bermain gim dan menonton konten media sosial. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut berpotensi mengurangi konsentrasi, menggeser prioritas, dan mempersempit kesempatan berinteraksi secara langsung.

Persoalannya bukan terletak pada gawai semata, melainkan pada kemampuan penggunanya dalam mengatur perilaku. Di sinilah pendidikan karakter menemukan relevansinya: murid perlu belajar bahwa tidak semua yang menarik harus segera diakses dan tidak setiap waktu luang harus diisi dengan hiburan digital. Menyikapi kondisi tersebut, Tim Manajemen Perubahan dengan Agen Perubahannya  menginisiasi kembali gerakan pengumpulan gawai sejak awal hingga akhir kegiatan pembelajaran di madrasah. Gerakan ini menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan yang membantu murid mempraktikkan disiplin dan pengendalian diri. Menyimpan gawai pada waktu yang telah ditentukan merupakan latihan sederhana untuk menunda keinginan, menaati kesepakatan, dan menempatkan kewajiban belajar di atas dorongan untuk mencari hiburan sesaat.

Pelaksanaan gerakan ini dipantau dan dikawal dengan melibatkan sinergi antara murid, orang tua, guru, tenaga kependidikan, dan seluruh warga madrasah. Pendekatan ini penting agar pembatasan tidak berhenti sebagai kepatuhan terhadap aturan, tetapi berkembang menjadi kesadaran tentang alasan di balik aturan tersebut. Oleh karena itu komitmen mengurangi penggunaan gawai pribadi harus diiringi dengan optimalisasi sumber belajar non-gawai seperti murid menggunakan komputer pribadi (PC) di laboratorium, guru memanfaatkan buku cetak, kertas, dan perlengkapan tulis-menulis sesuai kebutuhan. Disini teknologi tetap digunakan ketika mendukung tujuan pembelajaran. Dengan demikian, murid membedakan penggunaan teknologi yang produktif dari penggunaan yang berpotensi mengganggu fokus. Kemampuan memilih dan menggunakan teknologi secara tepat merupakan bagian penting dari literasi digital sekaligus kedewasaan dalam mengambil keputusan.

Perubahan mulai terlihat dalam keseharian madrasah. Keceriaan murid dan guru tampak, sementara interaksi di kelas terasa lebih hangat. Dalam testimoni yang dihimpun Guru Bimbingan dan Konseling (BK), Umi Solikatun, pada Jumat, 9 Oktober 2026, sejumlah beberapa murid mengaku awalnya merasa “gabut” dan canggung ketika tidak memegang gawai. Namun, setelah beberapa hari, mereka mulai terbiasa, bahkan menikmati waktu kapan harus belajar  dan kapan saat menikmati istirahat tanpa gangguan berarti. Waktu ishoma dimanfaatkan untuk mengobrol bersama teman setelah salat, berdiskusi, berjalan-jalan di lorong madrasah sambil bercengkerama, membaca buku di perpustakaan, bahkan melakukan murojaah atau mengulang hafalan Al-Qur'an. Aktivitas tersebut menyediakan ruang nyata untuk melatih karakter. Berdiskusi mengajarkan murid mendengarkan dan menghargai pendapat. Bercengkerama memperkuat hubungan sosial dan empati. Membaca menumbuhkan kebiasaan belajar mandiri, sedangkan murojaah melatih ketekunan dan kedisiplinan.

Pengumpulan gawai bukan tujuan akhir. Tujuan yang lebih mendasar adalah membentuk murid yang mampu mengatur dirinya, baik ketika gawai tersedia maupun ketika tidak ada pengawasan. Karakter tidak tumbuh hanya melalui nasihat, tetapi melalui kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Karena itu, keberhasilan gerakan ini perlu dilihat bukan semata-mata dari kepatuhan mengumpulkan gawai, melainkan juga dari tumbuhnya kemampuan mengelola waktu, bertanggung jawab, berinteraksi secara sehat, dan menggunakan teknologi dengan bijaksana. Dukungan orang tua dan seluruh warga madrasah, disertai evaluasi berkala, diperlukan agar kebiasaan positif tersebut berlanjut di luar lingkungan madrasah. Pada akhirnya, yang ingin dibangun bukan sekadar kebiasaan menyimpan gawai, melainkan kemampuan mengendalikan diri di tengah kemudahan teknologi. Sebab, generasi yang unggul bukanlah generasi yang menjauhi teknologi, melainkan generasi yang mampu menguasainya tanpa kehilangan disiplin, kepedulian, dan kemanusiaannya.(sol)


wa Chat via WhatsApp