Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Hukum dan perpolitikan bukan sekadar tentang kekuasaan dan aturan, tetapi juga tentang keberanian memilih kebenaran ketika kepentingan dan tekanan datang silih berganti. Semangat itulah yang terasa dalam kegiatan review bersama buku Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta.
Jumat (25/09/2026)
pukul 12.30 WIB, dua siswi kelas X-D, Sugiwidyatni Gilang Handayani dan Alesha
Nayla Purnomo, bersama-sama mengulas novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere
Liye. Kegiatan berlangsung di Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta bersama Pustakawan
Nuryanti A. Md.
Dalam review
tersebut, Sugiwidyatni dan Alesha membahas perjalanan Thomas, tokoh utama yang
terlibat dalam upaya mengungkap kasus besar yang berkaitan dengan dunia hukum
dan perpolitikan. Alur cerita yang penuh ketegangan membawa pembaca melihat
bagaimana kepentingan, kekuasaan, hukum, dan keberanian untuk menyuarakan
kebenaran saling berhadapan.
“Menurut saya,
cerita ini menarik karena Thomas tidak hanya menghadapi persoalan yang besar,
tetapi juga harus berani mengambil sikap ketika berhadapan dengan kepentingan
dan permainan politik,” ungkap Alesha Nayla Purnomo.
Sementara itu,
Sugiwidyatni Gilang Handayani menilai buku tersebut memberikan pelajaran
tentang pentingnya keberanian dan integritas dalam menghadapi persoalan. “Dari
cerita ini saya belajar bahwa kita tidak boleh takut menyuarakan kebenaran dan
harus tetap berpegang pada aturan meskipun berada dalam situasi yang sulit,”
tuturnya.
Dari kisah yang
disampaikan, terdapat sejumlah pesan moral yang dapat dipetik, di antaranya
pentingnya menjauhi korupsi, tidak melanggar hukum dan aturan, serta memiliki
keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Novel ini juga mengajak pembaca untuk
lebih kritis dalam melihat persoalan hukum dan perpolitikan yang terjadi di
sekelilingnya.
Pustakawan
Nuryanti A. Md. menyampaikan bahwa kegiatan review bersama menjadi ruang bagi
siswa untuk tidak hanya membaca, tetapi juga mengolah dan menyampaikan kembali gagasan
yang diperoleh dari buku.
“Ketika siswa
membaca lalu menceritakan kembali isi buku, mereka sedang belajar memahami
persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Buku seperti Negeri di Ujung
Tanduk juga dapat menjadi pintu bagi siswa untuk mengenal nilai keberanian,
integritas, hukum, dan tanggung jawab melalui sebuah cerita,” jelas Nuryanti.
Kegiatan review
bersama ini menjadi bagian dari upaya Perpustakaan MAN 2 Yogyakarta dalam
menghidupkan budaya membaca melalui program “Baca, Balik, Cerita”. Melalui
kegiatan tersebut, buku tidak berhenti sebagai bacaan di rak perpustakaan,
tetapi dihidupkan kembali melalui cerita, pemikiran, dan pengalaman pembacanya.
Literasi bukan
hanya tentang membaca halaman demi halaman, tetapi tentang bagaimana sebuah
bacaan mampu menumbuhkan cara berpikir, keberanian menyampaikan gagasan, serta
nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan (nur)
Berikan Komentar