Syawalan Alumni Mandaya Pererat Silaturahmi Lintas Generasi, Teguhkan Nilai Kebersamaan dan Integritas

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Momentum Syawalan menjadi ruang istimewa bagi keluarga besar MAN 2 Yogyakarta (Mandaya) untuk kembali merajut kebersamaan lintas generasi. Alumni dari berbagai angkatan, mulai tahun 1982 hingga 2024, hadir dalam suasana hangat yang tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, tetapi juga menjadi penguat nilai silaturahmi di tengah kesibukan masing-masing.

Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa Syawalan bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum penting untuk mempererat hubungan, menumbuhkan nilai kebersamaan, serta menjaga ikatan kekeluargaan meskipun para alumni telah menapaki jalan hidup masing-masing. Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi momentum mempererat silaturahmi lintas angkatan. Di sinilah kita melihat bahwa ikatan keluarga besar Mandaya tetap terjaga, meskipun setiap individu memiliki kesibukan dan perjalanan hidup yang berbeda,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Syawalan juga menjadi sarana untuk saling mendoakan dan menguatkan dalam kebaikan. Dalam ajaran Islam, menjaga silaturahmi diyakini membawa keberkahan berupa kelapangan rezeki dan panjang umur, sebagaimana nilai-nilai yang diajarkan dalam hadis Nabi.

Hartiningsih juga menilai momentum ini sebagai pengingat bahwa meskipun terpisah oleh jarak dan waktu, keluarga besar Mandaya tetap dipertemukan dalam ikatan kebersamaan. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi pemantik lahirnya agenda silaturahmi berikutnya, sekaligus menegaskan kesiapan madrasah untuk terus memfasilitasi pertemuan alumni.

Menurutnya, peran alumni sangat luar biasa dalam mendukung kemajuan madrasah. Dukungan tersebut turut mengantarkan MAN 2 Yogyakarta meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) sebagai bentuk komitmen terhadap tata kelola yang bersih dan pelayanan prima. “Mandaya akan selalu terbuka. Kapan pun alumni kembali ke Yogyakarta, pintu gerbang madrasah ini siap menyambut,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan capaian membanggakan peserta didik, di mana sekitar 95 persen lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi, bahkan beberapa di antaranya berhasil menembus studi ke luar negeri. Saat ini, para peserta didik juga tengah bersiap menghadapi UTBK, dengan harapan dapat mengikuti jejak para alumni yang telah sukses.

Sementara itu, perwakilan guru, Muhammad Hatta, mengenang perjalanan panjang Mandaya yang telah melahirkan banyak alumni sukses. Ia menekankan bahwa keberhasilan sejati lahir dari keikhlasan dalam menuntut ilmu.

“Orang yang belajar dengan ikhlas akan memperoleh keberkahan ilmu. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Apa yang dijanjikan Allah pasti terjadi,” ujarnya.

Ia juga mengisahkan keteladanan keikhlasan dari para sahabat Nabi, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang secara diam-diam membantu sesama tanpa diketahui orang lain. Nilai keikhlasan tersebut, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter peserta didik Mandaya yang tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga di akhirat.

Ketua alumni, Dyah Estuti Tri Hartini, S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan Syawalan ini menjadi momentum strategis untuk menyambung kembali tali silaturahmi antaralumni sekaligus memperkuat jejaring yang telah terbangun. Ia menilai kebersamaan lintas angkatan ini menjadi kekuatan besar bagi Mandaya untuk terus berkembang.

“Kami berharap silaturahmi ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut dalam berbagai kegiatan yang mempererat kebersamaan. Alumni Mandaya memiliki potensi besar untuk saling menguatkan dan berkontribusi bagi madrasah,” ujarnya.

Pada perhelatan ini, tausiyah juga disampaikan oleh alumni Pendidikan Keagamaan angkatan 2017, Ustadz Dicky Artanto, M.Pd., yang dikenal aktif dan populer. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya menjaga adab dalam bersosialisasi, termasuk hal-hal yang perlu dihindari agar tidak melukai perasaan orang lain.

Ia mengingatkan agar setiap individu menjauhi sikap merendahkan, menyindir, membuka aib, serta berkata yang dapat menyinggung hati. Menurutnya, empati dan kepekaan sosial menjadi kunci dalam menjaga hubungan antarsesama. “Silaturahmi bukan hanya tentang bertemu, tetapi bagaimana kita menjaga lisan dan sikap agar tetap membawa kebaikan dan kenyamanan bagi orang lain,” pesannya.

Sebagai inti acara, seluruh peserta mengikuti prosesi ikrar saling memaafkan yang berlangsung khidmat dan penuh haru. Momen tersebut menjadi simbol penyucian hati, mempererat kembali hubungan yang mungkin sempat renggang, sekaligus meneguhkan komitmen untuk menjaga persaudaraan dalam bingkai kekeluargaan Mandaya.

Kegiatan Syawalan ditutup dengan harapan agar ke depan dapat digelar reuni yang lebih santai dan akrab, bahkan dengan nuansa khas Yogyakarta seperti angkringan, guna semakin mempererat tali persaudaraan. Semangat kebersamaan yang terbangun diharapkan terus hidup dan menjadikan Mandaya sebagai rumah besar yang selalu dirindukan oleh seluruh alumninya. (pusp)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp