Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – Membaca puisi bukan sekadar menikmati keindahan kata, melainkan juga menemukan makna kehidupan dan ketenangan hati. Hal inilah yang dirasakan Zaura Avicenna Ma’suma, siswi kelas X H MAN 2 Yogyakarta, setelah membaca dan mengulas puisi berjudul Tak Ada Lagi dalam buku Rindu yang Baik untuk Kisah yang Peluk karya Joko Pinurbo, Kegiatan ulasan buku tersebut dilaksanakan pada Kamis (29/10/2026) pukul 12.30 WIB bersama Pustakawan MAN 2 Yogyakarta, Nuryanti, A.Md., melalui program CALITA (Baca Balik Cerita).
Zaura
yang memiliki ketertarikan besar terhadap puisi mengungkapkan bahwa puisi Tak
Ada Lagi menjadi bagian paling berkesan baginya. Melalui puisi tersebut, Ia
menangkap pesan tentang pentingnya menjalani kehidupan dengan sabar, menikmati
setiap proses, dan tidak terlalu mencemaskan sesuatu yang belum terjadi.
Menurut
Zaura, manusia sering kali berharap agar sesuatu yang diinginkan segera
terwujud. Padahal, setiap hal membutuhkan proses dan waktu yang tepat. Ia
mencontohkan bagaimana seseorang ketika masih kecil terkadang ingin segera
menjadi dewasa, tanpa menyadari bahwa setiap tahap kehidupan memiliki
pengalaman dan kebahagiaannya sendiri.
“Jangan
terlalu berharap sesuatu segera datang. Semua membutuhkan proses. Jika memang
sudah menjadi takdir kita, pada waktunya akan datang juga. Nikmatilah prosesnya
dan berbahagialah dengan hari ini, dengan keadaan yang sedang kita jalani,
tanpa terus-menerus mencemaskan sesuatu yang belum terjadi,” demikian makna
yang dipetik Zaura dari puisi yang dibacanya.
Ulasan
tersebut mengundang perhatian Nuryanti. Ia mengaku tersentuh karena Zaura mampu
menangkap pesan reflektif dari sebuah puisi dan menghubungkannya dengan
pengalaman kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kemampuan memahami puisi tidak
hanya terletak pada keindahan bahasa, tetapi juga pada bagaimana pembaca
menemukan makna dan menjadikannya bekal dalam menjalani kehidupan.
“Puisi
mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, mendengarkan suara hati, dan memaknai
apa yang sedang kita jalani. Apa yang disampaikan Zaura menjadi pengingat bahwa
kita tidak harus selalu terburu-buru mengejar masa depan hingga lupa mensyukuri
hari ini. Setiap proses memiliki waktunya sendiri, dan kita perlu belajar
menjalaninya dengan sabar serta penuh rasa syukur,” ungkap Nuryanti.
Zaura
mengaku merasa lebih tenang setelah membaca puisi Tak Ada Lagi. Baginya, puisi
tersebut dapat membantu mengurangi kekhawatiran dan kecemasan terhadap sesuatu
yang belum terjadi. Ia belajar bahwa kehidupan tidak selalu harus dijalani
dengan tergesa-gesa, sebab ada banyak hal yang justru dapat dinikmati ketika
seseorang bersedia menghargai prosesnya.
Pengalaman
Zaura menunjukkan bahwa karya sastra dapat menjadi ruang untuk mengenali
perasaan, menenangkan pikiran, sekaligus membangun cara pandang yang lebih
bijaksana terhadap kehidupan.
Kisah
Zaura menjadi pengingat bahwa sebuah buku dapat menghadirkan lebih dari sekadar
pengetahuan. Di antara baris-baris puisi, seorang pembaca dapat menemukan
ketenangan, belajar menerima proses, dan kembali menghargai kehidupan yang
sedang dijalaninya.
CALITA:
Baca Balik Cerita — Cinta Membaca, Bercerita, dan Menginspirasi Sesama. (nur)
Berikan Komentar