Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) – Program Ekoteologi di MAN 2 Yogyakarta
kembali mendapat penguatan melalui coaching ketiga yang untuk pertama kalinya
dilaksanakan secara luring setelah dua sesi sebelumnya berlangsung secara
daring. Rabu (19/8/2026), kegatan ini menjadi ruang untuk melihat kembali
perjalanan program sekaligus menyusun langkah penguatan agar gerakan peduli
lingkungan di madrasah semakin terarah. Kehadiran tim pendamping secara
langsung menghadirkan suasana evaluasi yang lebih hangat, dialogis, dan dekat
dengan praktik yang telah dijalankan warga madrasah.
Tim Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang tiba di MAN 2 Yogyakarta sekitar
pukul 11.00 WIB dipimpin Kepala BDK Semarang, H. Suyatno, Lc., M.S.I., bersama
coach wilayah Yogyakarta dan Bantul, Dr. Hj. Amiroh Ambarwati, S.Pd., M.Hum.,
serta dua anggota tim lainnya. Kegiatan turut dihadiri jajaran Kantor
Kementerian Agama Kota Yogyakarta, yakni H. Ahmad Mustafid, S.Ag., M.Hum.,
selaku Kasubag Tata Usaha sekaligus penggerak program Ekoteologi, bersama Lipur
dan Citra Sari. Pertemuan tersebut menjadi simbol kuatnya sinergi BDK Semarang,
Kemenag Kota Yogyakarta, dan MAN 2 Yogyakarta dalam mengembangkan ekoteologi
sebagai gerakan yang tidak berhenti pada gagasan, tetapi hadir dalam keseharian
madrasah.
Dalam sesi pemaparan, Susana Widyawati, S.Pd., M.pd., Kepala Tata Usaha MAN
2 Yogyakarta menyampaikan laporan capaian pelaksanaan Ekoteologi, disambung Erny
selaku penggerak Ekoteologi MAN 2 Yogyakarta menguraikan program unggulan
“Tandu Mandaya Pertanian Terpadu MAN 2 Yogyakarta”. Program ini menarik
perhatian karena membangun pola pengelolaan lingkungan yang saling terhubung,
mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik hingga pemanfaatan sampah
organik menjadi kompos, pakan, dan pupuk organik cair (POC). Dari sana, pakan
dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot maupun ternak, maggot menjadi sumber
pakan ikan, sedangkan air kolam ikan dimanfaatkan kembali untuk menyiram
tanaman sehingga setiap bagian memiliki fungsi dan tidak mudah berakhir sebagai
limbah.
Siklus Tandu Mandaya terus bergerak melalui hasil pertanian dan peternakan,
ketika sisa panenan sayuran dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun
ikan, sementara kotoran hewan (kohe) diolah bersama dedaunan kering menjadi
bahan potensial untuk media tanam dan pupuk organik. Pola tersebut
memperlihatkan praktik ekonomi sirkular yang sederhana tetapi bermakna karena
sampah dipandang bukan sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, melainkan
sebagai sumber daya yang dapat dikembalikan ke dalam siklus kehidupan. Bagi
madrasah, praktik ini sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi peserta didik
untuk memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal dekat,
seperti memilah sampah, merawat tanaman, dan memanfaatkan kembali sesuatu yang
sebelumnya dianggap tidak berguna.
Melihat keterpaduan tersebut, Dr. Hj. Amiroh Ambarwati memberikan apresiasi
sekaligus menekankan pentingnya penyusunan baseline sebagai data awal
program. ”Baseline perlu disusun secara rinci, terukur, dan sistematis
agar perkembangan program dapat dibandingkan dengan kondisi end-line serta
menunjukkan dampak Ekoteologi secara objektif. Hal ni menjadi pengingat bahwa
inovasi yang baik bukan hanya tentang banyaknya kegiatan, tetapi juga tentang
kemampuan madrasah mendokumentasikan proses, mengukur perubahan, dan
membuktikan manfaatnya secara berkelanjutan,” paparnya.
Coaching ketiga ini menjadi momentum untuk meneguhkan arah perjalanan
Ekoteologi MAN 2 Yogyakarta. Tandu Mandaya Pertanian Terpadu menunjukkan
bagaimana nilai kepedulian terhadap alam dapat diterjemahkan menjadi sebuah
siklus kehidupan yang menyatukan pengelolaan sampah, maggot, ikan, ternak,
pupuk organik, dan pertanian dalam satu ekosistem. Melalui pendampingan
berkelanjutan BDK Semarang, Kemenag Kota Yogyakarta, dan MAN 2 Yogyakarta,
gerakan Ekoteologi diharapkan semakin kuat, terukur, terdokumentasi, dan mampu
tumbuh sebagai praktik baik pengelolaan lingkungan berbasis nilai-nilai
keagamaan di madrasah. (Rny)
Berikan Komentar