Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Dari ruang-ruang belajar yang bersih hingga gerakan kecil yang berdampak besar bagi bumi, MAN 2 Yogyakarta menegaskan bahwa kepedulian lingkungan bukan sekadar program, melainkan budaya yang hidup dan tumbuh bersama seluruh warga madrasah. Konsistensi itulah yang mengantarkan MAN 2 Yogyakarta melangkah mantap dalam Tahap II Lomba Kebersihan Sekolah tingkat Kota Yogyakarta tahun 2026.
Setelah dinyatakan lolos tahap pertama pada 5 Februari 2026 dan masuk dalam jajaran 10 besar, madrasah ini menjalani penilaian lanjutan pada 8 April 2026 sebagai penentu menuju tiga terbaik. Rombongan tim juri disambut langsung oleh Kepala MAN 2 Yogyakarta Hartiningsih, S.Pd., M.Pd., bersama Kepala Tata Usaha Isti Wahyuni, S.E., M.M. Tim penilai terdiri dari Nur Wara Gunarsih, S.Tr.Kes., Tri Rahayu, S.T., dan Evi Effrisanti, S.TP., didampingi Tyas Wijayani, S.T., Maulana Sriyono, Anjas Nugroho, S.Or., serta Basuki Rachmat, S.H. Kegiatan ini juga diperkuat oleh tim internal madrasah, yakni Khusnul Daroyah, Umi Solikatun, S.Pd., dan Nur Khasanah, S.Pd.
Penilaian Tahap II yang dilaksanakan pada Kamis (09/04/2026) mengacu pada delapan komponen utama, meliputi kebersihan ruang kelas, kamar mandi, halaman sekolah, serta sarana dan prasarana. Seluruh aspek ditinjau secara langsung berdasarkan kondisi riil di lapangan, mulai dari kebersihan lantai, kerapian ruang, pencahayaan, hingga kelayakan fasilitas pendukung. Kebersihan dan keamanan lingkungan sekitar sekolah menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat dan nyaman.
Selain aspek fisik, perhatian juga tertuju pada pengelolaan lingkungan melalui Program MASJOS. Pemilahan sampah, pengolahan limbah organik, kerja sama dengan bank sampah, serta kebijakan pengurangan sampah seperti penggunaan tumbler dan gerakan menghabiskan makanan menjadi indikator utama. Partisipasi aktif warga madrasah, mulai dari siswa, guru, hingga tenaga kependidikan, tercermin dalam piket rutin, Gerakan Reresik Sekolah, serta sistem pengelolaan kebersihan yang terstruktur.
Dalam proses penilaian, MAN 2 Yogyakarta menampilkan eviden secara komprehensif dan inovatif. Data disajikan dalam dokumen digital terstruktur yang terintegrasi dalam tautan per komponen, dilengkapi presentasi, flipbook, serta video kegiatan. Verifikasi lapangan di berbagai titik semakin menguatkan kesesuaian antara laporan dan kondisi nyata.
Capaian ini tidak lepas dari konsep ekoteologi yang menjadi ruh pendidikan madrasah. Nilai keimanan berpadu dengan budaya belajar, inovasi, dan kepedulian lingkungan dalam satu kesatuan gerak. Sejalan dengan itu, MAN 2 Yogyakarta berhasil meraih 429 prestasi sepanjang 2025, menempati peringkat 3 SNBP tingkat DIY untuk SMA/MA negeri, serta menyandang predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK).
Budaya bersih dan sehat telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga madrasah. Ruang kelas yang tertata rapi, fasilitas sanitasi yang higienis, serta lingkungan yang asri menciptakan suasana belajar yang kondusif. Berbagai sarana seperti laboratorium, perpustakaan, ruang komputer, hingga kantin dikelola secara optimal, didukung penerapan kawasan tanpa rokok dan layanan UKS yang terjaga.
Inovasi pengelolaan lingkungan terus dikembangkan melalui program MASJOS, mulai dari pemilahan sampah, penguatan bank sampah, hingga pengolahan limbah menjadi kompos, eco-enzyme, biopori, dan hidroponik. Kebiasaan ramah lingkungan pun terus ditanamkan melalui penggunaan tumbler, pengurangan sampah sekali pakai, serta kerja bakti rutin yang melibatkan seluruh warga madrasah.
Dukungan penuh segenap civitas menjadi kekuatan utama. Tim manajemen bersama para wakil kepala madrasah, Fajar Basuki Rahmat, S.Ag., Leni, S.Si., M.Pd., Afwan Suhaimi, S.Pd., serta Rita Setyawati, S.Pd., M.Pd., berkolaborasi dengan Kepala Perpustakaan Sri Narwanti, S.Pd., M.Pd., Koordinator BK Dyah Estuti Tri Hartini, S.Pd., Kepala Laboratorium IPA Nuning Setyaningsih, S.Pd., M.Pd., laboran Sri Purwati, S.Si., M.Pd., serta seluruh guru dan tenaga kependidikan dalam menjaga kualitas lingkungan madrasah secara berkelanjutan. Keaktifan dan keterlibatan organisasi peserta didik serta seluruh murid juga menjadi kekuatan penting, menghadirkan budaya bersih sebagai gerakan kolektif yang hidup di setiap lini aktivitas madrasah. Dukungan tersebut semakin diperkuat melalui sinergi, koordinasi, dan harmonisasi yang erat dengan para pemangku kepentingan serta masyarakat sekitar, sehingga tercipta ekosistem pendidikan yang peduli dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar kompetisi, MAN 2 Yogyakarta menanamkan kesadaran bahwa setiap individu adalah penjaga bumi. Tahap II ini menjadi momentum penting untuk melangkah lebih dekat menuju tiga terbaik, sekaligus menghadirkan inspirasi bahwa kolaborasi, konsistensi, dan nilai kepedulian mampu membangun budaya lingkungan yang kuat dan berkelanjutan di dunia pendidikan. (pusp)
Berikan Komentar