Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Dua raket, satu meja, dan keberanian untuk terus mengejar bola menjadi saksi lahirnya kembali cerita emas dari MAN 2 Yogyakarta. Selasa (15/09/2026), Luqman Hafidz Asyari dan Rozin Syarif Firdaus sukses meraih medali emas nomor ganda putra cabang olahraga Tenis Meja dalam ajang Pekan Kompetisi Madrasah (PKM) tingkat Kota Yogyakarta di Kampus Terpadu Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Kemenangan tersebut sekaligus melanjutkan jejak prestasi tenis meja madrasah yang tahun sebelumnya juga berhasil membawa pulang medali emas.
Pertandingan final berlangsung dalam atmosfer penuh ketegangan ketika pasangan Luqman/Rozin berhadapan dengan ganda putra MAN 1 Yogyakarta yang merupakan juara bertahan PKM tingkat Kota Yogyakarta tahun 2025. Puluhan pasang mata yang memenuhi arena menyaksikan keduanya tampil tenang hingga akhirnya mengunci kemenangan dengan skor 3–1. Tepuk tangan yang mengiringi kemenangan bukan sekadar perayaan sebuah pertandingan, tetapi menjadi penghargaan atas keberanian dua siswa yang mampu menjaga asa hingga bola terakhir.
Bagi Luqman, kemenangan ini terasa semakin istimewa karena pada PKM tahun sebelumnya ia juga menjadi bagian dari raihan emas melalui nomor tunggal putra, sementara MAN 2 Yogyakarta turut memperoleh emas dari nomor ganda putri atas nama Devi Muslikhatul Khumairo dan Afiah Amimatunnisa. Tahun ini, tradisi tersebut kembali berlanjut melalui perjuangan Luqman bersama Rozin di nomor ganda putra. Senyum keduanya selepas pertandingan seolah menyampaikan pesan sederhana bahwa prestasi tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari latihan, kekompakan, dan kemauan untuk kembali mencoba.
Yanuar Fakhruzie, guru pembimbing Tenis Meja, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian anak didiknya di ajang tersebut. Ia menuturkan bahwa dari empat nomor yang dipertandingkan, MAN 2 Yogyakarta berhasil membawa pulang satu medali emas, meskipun pada nomor tunggal putri dan ganda putri perjuangan harus terhenti setelah lawan mendapatkan poin dari bola yang mengenai pinggir meja saat kedudukan deuce pada set penentuan. Catatan tersebut justru menjadi pengingat bahwa dalam olahraga, kemenangan dan kekalahan sama-sama mengajarkan ketangguhan untuk terus bertumbuh.
Kini, emas di tingkat kota menjadi pijakan berikutnya bagi Luqman dan Rozin untuk menatap arena yang lebih luas di tingkat provinsi. Ketika ditanya tentang harapannya, Rozin menjawab singkat namun penuh keyakinan, “Saya ingin juara 1, Pak.” Kalimat sederhana itu menjadi tanda bahwa setelah bola terakhir berhenti di meja pertandingan, perjuangan mereka belum selesai—masih ada podium berikutnya yang ingin mereka dekati.(cio)
Berikan Komentar