Felyn dan Tata Teliti Chatbot AI untuk Redakan Kesedihan, Raih Juara Harapan II Lomba Peneliti Belia DIY 2025

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) - Karya ilmiah yang menyentuh sisi kemanusiaan dan emosional berhasil mengantarkan dua siswa MAN 2 Yogyakarta, Latifa Felyn dan Edbek Tata, meraih Juara Harapan II dalam ajang Lomba Peneliti Belia (LPB) DIY 2025 bidang Psikologi.

Dengan mengusung judul penelitian “Eksplorasi Penggunaan Chatbot AI sebagai Dukungan Emosional Sederhana untuk Mengurangi Kesedihan”, Felyn dan Tata menyelami realitas remaja masa kini yang kian akrab dengan teknologi, khususnya dalam mencari pelipur lara di tengah rasa sedih dan sepi.

Fenomena AI sebagai Teman Curhat, penelitian ini muncul dari pengamatan terhadap maraknya penggunaan chatbot berbasis AI sebagai "teman curhat digital" di kalangan remaja. Chatbot dinilai lebih mudah diakses, tidak menghakimi, dan tersedia kapan pun dibutuhkan. Dari sinilah muncul pertanyaan penting: Dapatkah chatbot AI benar-benar membantu mengurangi kesedihan?

Menjawab Masalah Emosional Lewat Sains, Felyn dan Tata menyusun tiga rumusan masalah; apakah intensitas interaksi dengan aplikasi AI berhubungan dengan tingkat kesedihan pengguna?, seberapa efisien chatbot AI dalam menurunkan kesedihan?, mengapa AI dianggap sebagai solusi yang mudah dan dapat diandalkan secara emosional?

Dengan metode survei dan alat ukur DASS-21, mereka melibatkan responden remaja untuk mengukur tingkat kesedihan serta frekuensi interaksi dengan AI. Hasil analisis data dengan teknik korelasi Pearson dan regresi linier sederhana menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan. Artinya, semakin sering berinteraksi dengan chatbot AI, kecenderungan kesedihan cenderung menurun.

Namun, keduanya tetap kritis: chatbot AI bukan pengganti interaksi manusia, melainkan sekadar bentuk dukungan awal yang bersifat sementara dan sederhana.

Penelitian ini dibimbing oleh dua guru hebat, Nuning Setianingsih, S.Si, M.Pd, dan Indra Dwi Suryanto, S.Pd, yang memberikan arahan teknis sekaligus membangun pemahaman etis dan ilmiah dalam proses riset. Peran keduanya tak hanya sebagai pendamping akademik, tetapi juga penguat moral dan semangat dalam setiap tahap penelitian.

Dalam wawancaranya, Felyn menyampaikan bahwa riset ini ingin menunjukkan sisi lain dari teknologi, kami ingin membuktikan bahwa teknologi bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih manusiawi. AI tidak menggantikan teman atau psikolog, tapi bisa membantu saat seseorang tidak tahu harus bicara ke siapa.”

Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd, M.Pd, memberikan apresiasi atas keberhasilan ini, “Prestasi Felyn dan Tata merupakan bukti bahwa siswa MAN 2 tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga peka terhadap isu-isu sosial dan emosional. Kami bangga atas kepedulian mereka terhadap sesama remaja dan kemampuan mereka mengolahnya secara ilmiah.”

Penelitian ini tidak hanya membawa pulang penghargaan, tetapi juga membuka ruang baru dalam pendekatan psikologis berbasis teknologi. Di era digital, kepekaan terhadap kesehatan mental sangat penting, dan Felyn–Tata telah menunjukkan bahwa inovasi sejati lahir dari empati. (pusp)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp