Riset Berbasis Teknologi, Natsya dan Kanza Raih Juara 2 LPB DIY 2025: Efisiensikan Distribusi Makanan Bergizi Gratis di Lereng Merapi

Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) - Prestasi membanggakan kembali diraih siswa MAN 2 Yogyakarta. Kali ini, giliran Natsya Cita Sabiya Budhiarto dan Kanza Haura Taqia yang sukses meraih Juara 2 dalam ajang Lomba Peneliti Belia (LPB) Daerah Istimewa Yogyakarta 2025, melalui karya ilmiah yang memadukan semangat sosial dengan kekuatan matematika dan algoritma komputer. Prestasi dikukuhkan pada 21 Juli 2025 

Penelitian mereka bertajuk “Pemodelan Rute Distribusi Makanan Bergizi Gratis untuk SPPG Cangkringan Menggunakan Algoritma Dijkstra dan TSP”, berhasil menarik perhatian dewan juri dengan pendekatan berbasis teknologi dalam menjawab tantangan nyata di lapangan: bagaimana menyalurkan makanan bergizi gratis secara efisien dan tepat sasaran, khususnya di wilayah rawan dan terpencil seperti Cangkringan, Sleman.

Ketika Algoritma Bertemu Kepedulian Sosial, Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program prioritas nasional yang bertujuan untuk meningkatkan gizi anak-anak di daerah rentan. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur.

Melalui pemodelan berbasis algoritma Dijkstra dan Travelling Salesman Problem (TSP), Natsya dan Kanza merancang jalur distribusi optimal untuk menjangkau puluhan titik sekolah dan pusat layanan anak usia dini (PAUD) di daerah Cangkringan. Mereka mengolah data riil dari 14 sekolah dan lebih dari 1.200 anak penerima manfaat, kemudian memvisualisasikan rute distribusi yang paling efisien dan hemat sumber daya.

Dalam penelitian ini, algoritma Dijkstra digunakan untuk menentukan rute terpendek antar titik distribusi, sedangkan algoritma TSP dimanfaatkan untuk mencari urutan kunjungan yang paling optimal. Kombinasi kedua algoritma ini memungkinkan distribusi makanan dilakukan dengan waktu dan biaya yang lebih efisien, tanpa mengurangi ketepatan sasaran.

Meski tantangan medan di Cangkringan cukup kompleks, dari jalan sempit hingga medan berbukit , pendekatan matematis ini terbukti memberikan hasil yang aplikatif dan realistis.

Penelitian inovatif ini dibimbing oleh dua guru berdedikasi, Nuning Setianingsih, S.Si, M.Pd dan Indra Dwi Suryanto, S.Pd. Di bawah arahan mereka, Natsya dan Kanza tidak hanya menguasai teori algoritma, tetapi juga mampu mengolah data lapangan dan menyusun laporan ilmiah yang solid serta presentasi yang meyakinkan.

Kepala MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd, M.Pd, mengungkapkan rasa bangga atas capaian tim peneliti muda ini, “Inovasi seperti ini menunjukkan bahwa anak-anak madrasah tidak hanya bisa berpikir analitis, tapi juga memiliki sensitivitas sosial yang tinggi. Mereka menggunakan teknologi bukan untuk kemewahan, tapi untuk melayani masyarakat.”

Keberhasilan Natsya dan Kanza menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi bisa bersinergi dengan empati sosial. Dengan pendekatan berbasis data dan algoritma, mereka membuktikan bahwa riset yang baik adalah yang mampu menyentuh realitas masyarakat dan menawarkan solusi konkret. (pusp)


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
wa Chat via WhatsApp