YOGYAKARTA (MAN 2 Yogyakarta) — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan madrasah. Tim MAN 2 Yogyakarta berhasil meraih medali perunggu (bronze medal) pada ajang OLGENAS International Geolympiad 2026, kompetisi geografi bergengsi tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.
Tim
MAN 2 Yogyakarta diperkuat oleh Muhammad Newton Alfa Nabil dan Raisa Ammara
Waranggani, dengan pendampingan guru Enno Retno Wulandari. S.Si. Keikutsertaan
ini menjadi tonggak penting karena merupakan partisipasi perdana MAN 2
Yogyakarta dalam ajang geolimpiade internasional.
OLGENAS
International Geolympiad 2026 digelar selama lima hari, 19–23 Januari 2026,
bertempat di Auditorium Merapi, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta. Kegiatan
dilaksanakan secara luring dan disiarkan melalui kanal YouTube All Genius.
Ajang ini diikuti 130 tim, terdiri atas 129 tim nasional dan satu tim
internasional, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan satu tim dari
mancanegara.
Kompetisi
ini dirancang untuk menguji kemampuan geografi secara komprehensif. Muhammad
Febyan Rico Saputra, Staf Divisi Acara/Subdivisi Kreatif OLGENAS, menjelaskan
bahwa rangkaian kegiatan meliputi Outdoor Learning, Geo Talk dengan pembicara
nasional dan internasional, serta berbagai perlombaan akademik bagi pelajar SMP
dan SMA. (Sumber: RRI.CO.ID)
Perlombaan
inti berlangsung selama dua hari, 21–22 Januari 2026, dengan sistem penilaian
multidimensional.
Pada
hari pertama, peserta mengikuti written test, multimedia test, dan laboratory
test yang menuntut ketajaman kognitif, analisis data, serta pemahaman konsep
geografi.
Pada
hari kedua, kompetisi dilanjutkan dengan outdoor learning berupa field work and
observation test, map and proposal planning, serta Geography Challenge
Competition (GCC) yang menguji kemampuan observasi lapangan, kerja tim,
komunikasi, dan pemecahan masalah.
Rangkaian
kegiatan ditutup dengan pengenalan Fakultas Geografi UGM, expo, serta acara
puncak awarding pada 23 Januari 2026.
Guru
pendamping, Enno Retno Wulandari, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan
hasil dari proses panjang dan persiapan yang matang, pembimbingan intern
terintegrasi yang dikoordinir staf kurikulum Nur Khasanah, S.Pd. Menurutnya, International Geolympiad menuntut penguasaan
keterampilan secara menyeluruh, mulai dari kemampuan kognitif, analisis logika
dan intuisi, hingga komunikasi serta kerja sama tim.
“Persiapan
tidak dilakukan secara instan, tetapi melalui keikutsertaan dalam berbagai
kompetisi sebelumnya sebagai bekal menuju ajang ini,” ujarnya.
Ia
menambahkan bahwa keberhasilan meraih medali perunggu menjadi bukti bahwa
peserta didik madrasah mampu bersaing dengan kompetitif. “Alhamdulillah, berkat
kerja keras, semangat pantang menyerah, serta dukungan dari berbagai pihak, tim
MAN 2 Yogyakarta berhasil meraih medali perunggu. Semoga pada tahun-tahun
mendatang semakin banyak peserta didik yang berpartisipasi dan meraih prestasi
yang lebih tinggi,” tuturnya.
Kepala
MAN 2 Yogyakarta Hartiningsih, S.Pd, M.Pd sampaikan apresiasi tinggi, rasa
syukur dan bangganya, “prestasi yang diraih ananda MANDAYA pada Olimpiade
Geografi tingkat internasional ini juga dinilai sebagai bukti bahwa ketekunan,
disiplin, dan semangat belajar yang tinggi akan selalu membuahkan hasil.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa peserta didik Madrasah Aliyah mampu berprestasi,
berpikir kritis, serta bersaing secara intelektual dengan penuh percaya diri.”
“Prestasi
ini diharapkan menjadi pemacu untuk terus meningkatkan kualitas diri,
memperdalam ilmu pengetahuan, serta menyiapkan masa depan yang lebih luas, baik
di dunia akademik, riset, maupun pengabdian kepada masyarakat, dengan tetap
menjunjung tinggi integritas, kejujuran, dan akhlakul karimah dalam setiap
langkah,” harapnya lebih lanjut.
Salah
satu anggota tim, Muhammad Newton Alfa Nabil, menyampaikan refleksinya bahwa
kunci kesuksesan bukan semata kecerdasan atau bakat, melainkan konsistensi.
Menurutnya, proses belajar ibarat lari maraton, bukan lari sprint, yang
membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan daya juang. “Jika jatuh seratus kali,
maka bangkitlah seratus satu kali,” ujarnya (pusp)
Berikan Komentar