Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) - Dua siswa MAN 2 Yogyakarta kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam bidang riset ilmiah. Tsabita Shafa Atahardani dan Jihan Amira Ardani sukses meraih Juara 2 dalam ajang bergengsi Lomba Peneliti Belia (LPB) Daerah Istimewa Yogyakarta 2025, dengan karya penelitian yang mengangkat isu lingkungan sekaligus solusi lokal yang berkelanjutan.
Penelitian
mereka bertajuk “Inovasi Berbasis Ekofitoremediasi: Pemanfaatan Tanaman Cyperus
rotundus untuk Menyaring Limbah Cair Industri Batik Yogyakarta”, menjawab
persoalan serius yang selama ini menghantui dunia batik: pencemaran lingkungan
akibat limbah cair yang belum terkelola optimal, khususnya di industri batik
skala kecil.
Limbah
Batik dan Tanggung Jawab Generasi Muda. Yogyakarta dikenal sebagai kota batik,
namun di balik kekayaan motif dan tradisinya, ada beban lingkungan yang cukup
berat. Proses pewarnaan batik menghasilkan limbah cair yang mengandung logam
berat dan bahan kimia sintetis. Limbah ini mencemari aliran sungai, menurunkan
kualitas air, dan membahayakan ekosistem serta kesehatan masyarakat.
Melihat
keresahan ini, Tsabita dan Jihan menghadirkan pendekatan yang sederhana namun
efektif: memanfaatkan Cyperus rotundus, sejenis tanaman liar yang ternyata
memiliki kemampuan menyerap zat pencemar, sebagai solusi alami melalui metode
ekofitoremediasi.
Metode
yang Membumi, Hasil yang Mencerahkan. Sampel limbah diambil dari Kampung Batik
Giriloyo, Bantul, salah satu sentra batik ternama di Yogyakarta. Penelitian
dilakukan di Laboratorium Kimia MAN 2 Yogyakarta. Prosesnya meliputi, 1.
Penyaringan awal menggunakan karbon aktif dan zeolite; 2. Penyaringan
bertingkat melalui media pasir; 3. Proses ekofitoremediasi menggunakan tanaman
Cyperus rotundus
Dari
pengujian tersebut, terjadi penurunan kadar logam berat dan zat warna. Limbah
yang semula keruh dan berwarna pekat berubah menjadi lebih jernih dan layak
buang. Lebih dari itu, metode ini murah, mudah diterapkan oleh UMKM, serta
tidak membutuhkan teknologi tinggi — menjadikannya solusi yang berdaya guna
tinggi bagi masyarakat kecil.
Penelitian
ini berlangsung dengan bimbingan dua guru inspiratif, Nuning Setianingsih,
S.Si, M.Pd dan Indra Dwi Suryanto, S.Pd. Keduanya tak hanya membimbing secara
teknis, tetapi juga menanamkan semangat ilmiah, empati lingkungan, serta
kemampuan presentasi ilmiah yang matang hingga ke babak final.
Kepala
MAN 2 Yogyakarta, Hartiningsih, S.Pd, M.Pd, menyampaikan apresiasi mendalam, “Penelitian
Tsabita dan Jihan adalah bukti bahwa siswa madrasah tidak hanya mampu berpikir
kritis, tapi juga hadir dengan solusi konkret dan aplikatif. Semoga inovasi ini
bisa terus dikembangkan dan menjadi kontribusi nyata bagi keberlanjutan
lingkungan di Yogyakarta.”
Langkah
Awal Inovator Hijau Madrasah, prestasi ini menjadi penanda bahwa inovasi tidak
harus datang dari laboratorium besar. Justru dari ruang kelas madrasah, dari
tangan siswa yang peduli dan dibimbing dengan tulus, lahir gagasan-gagasan yang
menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Dengan
meraih Juara 2 LPB DIY 2025, Tsabita dan Jihan telah menunjukkan bahwa ilmu
pengetahuan bisa bersanding dengan nilai lokal, kepekaan sosial, dan semangat
pelestarian lingkungan. (pusp)
Berikan Komentar