Yogyakarta (MAN 2 Yogyakarta) — Di tengah isu global tentang darurat sampah plastik, MAN 2 Yogyakarta melahirkan langkah inspiratif yang tak hanya ramah lingkungan, tetapi juga sarat nilai budaya. Melalui workshop kreatif daur ulang, sampah plastik bekas minuman disulap menjadi karya seni wayang yang penuh makna. Inovasi ini menjadi wujud nyata komitmen madrasah dalam membangun generasi peduli lingkungan sekaligus cinta budaya bangsa. MAN 2 Yogyakarta siap berpredikan WBK (Wilayah Bebas dari Korupsi) di tahun 2025.
Permasalahan
sampah plastik yang kian mengkhawatirkan menjadi latar kuat kegiatan ini. Botol
plastik yang sehari-hari menumpuk di lingkungan madrasah, kini tak lagi
dianggap limbah tak bernilai. Dengan sentuhan kreatif para siswa, limbah
tersebut berubah menjadi karya seni yang mengagumkan. Inilah bukti bahwa
kesadaran lingkungan bisa dibangun melalui pendekatan edukasi yang menyenangkan
sekaligus menghidupkan kembali khazanah budaya lokal.
Kegiatan
ini semakin bermakna karena berkontribusi nyata pada hari bebas plastik sedunia yang diperingati setiap 3 Juli sekaligus HUT ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia. Semangat
merdeka dari sampah plastik menjadi benang merah yang meneguhkan pesan:
mencintai tanah air bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan aksi nyata
menjaga bumi agar tetap lestari.
Hartiningsih, S.Pd, M.Pd, Kepala
MAN 2 Yogyakarta dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan harapan besar
kepada para siswa. “Pengabdian terhadap negeri bisa dimulai dari hal-hal
sederhana, seperti mengurangi sampah plastik. Dengan kreativitas, sampah bisa
menjadi karya seni. Dengan kepedulian, kita bisa merawat bumi untuk masa depan.
Saya berharap kegiatan ini menjadi awal kebiasaan baik yang terus tumbuh di
lingkungan madrasah,” ungkap beliau penuh harap.
Umi
Solikatun, S.Pd., selaku penanggung jawab kegiatan, menekankan bahwa workshop
ini adalah upaya nyata menanamkan kesadaran lingkungan melalui cara yang
menyenangkan. “Kami ingin siswa belajar bahwa menjaga kebersihan lingkungan
bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari rasa syukur atas nikmat
kemerdekaan yang kita miliki. Kreativitas dalam daur ulang adalah bukti bahwa
dari keterbatasan bisa lahir karya yang bernilai,” jelasnya.
Hal
senada juga disampaikan Dra. Khusnul Daroyah. Beliau berharap kegiatan ini
mampu memperkuat jiwa gotong royong, kepedulian, sekaligus rasa cinta tanah air
para siswa. “Semoga pengalaman ini menjadi bekal penting bagi anak-anak kita,
bahwa cinta lingkungan adalah wujud cinta kepada bangsa dan agama. Mari kita
jadikan madrasah sebagai teladan dalam gerakan hijau,” tuturnya penuh
optimisme.
Fitrindiana, salah satu narasumber dalam workshop, juga memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, siswa MAN 2 Yogyakarta memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam menjaga lingkungan. “Saya kagum melihat semangat anak-anak. Dari botol plastik yang sering terbuang, mereka mampu menciptakan karya seni yang sarat makna. Harapan saya, kreativitas ini tidak berhenti di madrasah, tetapi menular ke rumah, masyarakat, bahkan menjadi gerakan bersama untuk bumi yang lebih bersih,” ucapnya penuh semangat.
Dengan
derap langkah semangat kemerdekaan, MAN 2 Yogyakarta membuktikan bahwa cinta
tanah air bisa diwujudkan lewat kepedulian lingkungan. Wayang dari botol
plastik adalah simbol harapan: bahwa Indonesia bisa merdeka dari sampah, jika
generasi mudanya bersatu menjaga bumi dengan
cinta dan aksi nyata. (pusp)
Berikan Komentar